Selasa, 21 Maret 2017

Tugas Pertemuan 1 (Psikoterapi, Psikoanalisis, Humanistik Eksistensial, Person Centered Therapy)

FAKKAR NUANSA PEKERTI (13514906)
3PA18


A.    PSIKOTERAPI

Pengertian Psikoterapi Psikoterapi yang lahir pada abad pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sederhananya: jiwa dan “theraphy” dari Bahas Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan” seseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychotheraphy” tidak tercantum, tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian. sebagaimana diketahui, bahwa perawatan terhadap penderita seperti tersebut ini, juga bisa dilakukan dengan pendekatan dari bidang Kedokteran, antara lain farmasi dan farmakoterapi.
Tujuan Psikoterapi
Tujuan psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua orang tokoh yakni Ivey, et al (1987) dan Corey (1991).
1.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstrukai kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

2.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991), dirumuskan sebagai: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

3.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah: Untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.

4.      Corey (1991) merumuskan tujuan psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi dengan: Untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa  mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya. ditolak atau terhambat. Untuk memungkinkannya berkembang ke arah keterbukaan, memperkuat kepercayaan diri, kemauan melakukan sesuatu dan meningkatkan spontanitas dan kesegaran dalam hidupnya.

Pada akhirnya uraian mengenai tujuan psikoterapo ini, ditutup dengan uraian mengenai terapi realitas dari kedua tokoh tersebut diatas.
·         Ivey, et al (1987) merumuskan psikoterapi dengan pendekatan terapi realitas sebagai: Untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.
·         Mengenai terapi realitas ini, Corey (1991) merumuskanya dengan: Untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakannya berhasil.

Unsur-Unsur Psikoterapi
 Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu:
1.      Peran sosial (martabat)
2.      Hubungan (persekutuan terapeutik)
3.      Hak
4.      Retrospeksi
5.      Reduksi
6.      Rehabilitas, memperbaiki gangguan berat
7.      Resosialisasi
8.      Rekapitulasi

Perbedaan antara Psikoterapi & Konseling
Perbedaan antara psikoterapi dan konseling Psikoterapi secara fisik diterapkan terhadap penyakit klinis atau mental karena sangat berlawanan dengan penyakit yang banyak terhadu du masyarakat. Psikoterapi dilakukan oleh psikoterapis (yang berlawanan dengan konselor) yang merupakan seorang terapos umum atau terapis yang berkualitas, Sedangkan konseling dapat dilakukan oleh semua orang, mulai dari pemuka agama sampai dengan konselor profesional. konseling bersifat jauh lebih praktis, setiap hari, cenderung ke arah pemecahan masalah… berdasar pada masalah di sini dan saat ini, sedangkan psikoterapi, membangkitkanide-ide yang berhubungan dengan psikologi freudian yang mungkin menggunakan kerangka kerja yang sangat khusus. Konseling merupakan sesuatu yabg lebih terfokus, lebih spesifik dan lebih berorientasi pada situasi, dan psikoterapi sebagai suatu pandangan yang jauh lebih global tentang kehidupan seseorang, berupaya membuat suatu perubahan yang dapat memengaruhi seluruh kehidupan seseorang, atau berupaya membuat perubahan dalam kepribadian. Psikoterapi merupakan suatu eksplorasi kehidupan seseorang dengan tingkatan yang jauh lebih dalam meliputi membentuk daya titik berdasarkan eksplorasi perkembangan awal, pengaruh orang tua dan hal-hal yang dapat muncul pada konseling. Dalam konseling, mereka lebih dibawa untuk memahami situasi tertentu daripada memahami diri klien sendiri.
Pendekatan terhadap mental illnes
1. Pendekatan Psikoanalisis (Psikodinamika)
Membuat sesuatu tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat. Tujuanya adalah agar klien menyadari apa yang sebelumnya tidak disadari.
2. Terapi Behavioral
Manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi) Dalam hal ini berkaitan dengan classical conditioning (Ivan Pavlov) yang menggunakan anjing sebagai percobaanya,ketika anjing menekan bel, muncul makanan dari air liur. Selain itu juga operant conditioning (B.F.Skinner) yang menggunakan tikus sebagai percobaanya.
3. Teori Humanistik
Sebuah penekanan umum terhadap perilaku manusia yag menekankan pada keunikan, harga diri, dan nilai tujuan pribadi. Terapi humanistik adalah terapi yang dimaksudkan untuk menangani manusia secara menyeluruh.
4. Terapi Kognitif
Pikiran manusia dipengaruhi oleh pikiranya. Terapi ini lebih fokus pada modifikasi pola pikiran untuk merubah perilaku. Tujuan terapi ini adalah mengubah pola pikiran dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional
5. Teori Holistik
Memilih berbagai teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu, ketimbang mengikuti dengan satu teknik tunggal. Selain itu terapi ini merupakan suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.


B.     TERAPI PSIKOANALISIS

Konsep Dasar Teori Psikoanalisis Tentang Kepribadian
KEPRIBADIAN:
Kesadaran dan ketaksadaran
Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air, bagian jiwa yang terbesar berada dibawah permukaan kesadaran. Ketaksadaran menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan, dan bahan-bahan yang di represi. Freud percaya, bahwa sebagian besar fungsi psikologis berada di luar kesadaran.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari, karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a)         Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b)      Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c)      Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme-mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego tidak selalu patologis dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup. Berikut ini beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego :
a. Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap keberadaan kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan yang membangkitkan kecemasan.
b. Proyeksi
Proyeksi adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia tiak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri.
c. Fiksasi
Fiksasi adalah menjadi “terpaku’ pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menyebabkan kecemasan.
d. Regresi
Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” untuk menghndari ego dari cedera atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f. Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displacement
Displacement adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sebenarnya, tidak bisa dijangkau.
h. Represi
Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketidak sadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah satu konsep Freud yang paling penting.
i. Formasi reaksi
Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan keinginan tak sadar. Jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan untuk menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman.

Perkembangan Psikoseksual
Sumbangan yang berarti dalam model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa.
– Tahun pertama kehidupan : Fase Oral
Dari lahir sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral. Mengisap buah dada ibu memuaskan kebutuhan akan makanan dan akan kesenangan karena mulut dan bibir merupakan zona erogen yang peka selama fase oral.
Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, yaitu percaya kepada orang lain, dunia, dan diri sendiri.
– Usia satu sampai tiga tahun : Fase Anal
Tugas yang harus diselesaikan ada fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang negatif. Selama fase anal, anak dipastikan akan mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dsb.
– Usia tiga sampai lima tahun : Fase Falik
Selama fase falik, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin yaitu penis pada anak laki-laki dan klitoris pad anak perempuan. Pada fase falik, masturbasi meningkat frekuensinya. Anak-anak menjadi lebih ingin tau tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk mengekplorasi tubuh sendiri dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan diantar kedua jenis kelamin.


Unsur – Unsur Terapi
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian.

Fungsi dan Peran Terapis
Karakteristik psikoanalisi adalah terapi atau analis membiarkan dirinya anonim sera hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Analis berusaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan serta secara realistis. Yang dilakukan klien sebagian besar adalah berbicara, yang dilakukan oleh analis adalah mendengarkan dan berusaha untuk mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran yang layak untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.

Teknik – Teknik Terapi
– Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama terapi psikoanalitik. Analis meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya. Dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Cara yang khas adalah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisi duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi nya mengalir bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan melepas emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan katarsis.
– Analisis Transferensi
Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Transferensi dalam proses terapeutik ketika “urusan yang tidak selesai” dimasa lalu klien dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang. Analisis trasferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
– Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan mengingat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan yang direpresi itu.
Resistensi bekerja dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran klien.
– Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah dan perasaa yang direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi sebagai “jalan istimewa menju ketidaksadaran” karena melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf isi yaitu isi laten dan isi manifes.

C.     TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan perhatian pada proses-proses tak eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistic eksistensial juga lebih memusatkan pada apa yang dialami pasien pada masa-masa sekarang “di sini dan kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan antara terapi-terapi humanistuk eksistensial, yakni keduanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.
Teori konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasiterapi. Pendekatan atau teori eksistensian-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.
Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.

Konsep Dasar Teori Humanis Eksistensial Tentang Kepribadian
Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasan bagi praktek konseling, yaitu:
a) Kesadaran Diri,
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
b) Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan.
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
c) Penciptaan Makna.
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.

Unsur-unsur Terapi
a)      Tujuan-tujuan Terapeutik

Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.
b)      Fungsi dan Peran Terapis

Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada pertumbuhan.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan klien.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

Teknik-Teknik Terapi
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
Penerimaan
Rasa hormat
Memahami
Menentramkan
Memberi dorongan
Pertanyaan terbatas
Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna


D.    PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)

Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku / Kepribadian
Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.
Konsep Carl Rogers tentang kepribadian
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
1.      Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2.      Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.      Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4.      Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5.      Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6.      Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7.      Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.      Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.      Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10.  The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

Unsur – Unsur Terapi
1.      Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2.      Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.


Teknik – Teknik Terapi
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1.      Empathy
2.      Positive Regard (acceptance)
3.      Congruence
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.
Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.



Sumber :
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Morrison, Paul & Burnard, Philip.(1997) .Caring & Communication: the interpersonal relationship in nursing. New York: Palgrave.
Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Semiun, Yustinus 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: PT Kanisius
Corey, Gerald. 2006. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Syamsu, Yusuf. Juntika, Nurihsan. Teori Kepribadian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
E, Koswara. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama
Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.

Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.

Senin, 09 Januari 2017

Kepuasan Kerja & Contoh Kasusnya

TUGAS SOFTSKILL
(Kepuasan Kerja & Contoh Kasusnya)


FAKKAR NUANSA PEKERTI
13514906 (3PA18)





Kepuasan Kerja

A.     Pengertian Kepuasan Kerja
Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
Menurut Kreitner dan Kinicki (2001;271) kepuasan kerja adalah “suatu efektifitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan”. Davis dan Newstrom (1985;105) mendeskripsikan “kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka”. Menurut Robbins (2003;78) kepuasan kerja adalah “sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yag diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima”.
Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap berbagai segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep tunggal. Seseorang dapat relatif puas dengan 14 salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek lainnya. Kepuasan Kerja merupakan sikap (positif) tenaga kerja terhadap pekerjaannya, yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja. Penilaian tersebut dapat dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya, penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting dalam pekerjaan. Karyawan yang puas lebih menyukai situasi kerjanya daripada tidak menyukainya.
Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan kerja cenderung mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan lampau daripada harapan-harapan untuk masa depan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat dua unsur penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar. Nilai-nilai pekerjaan merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan tugas pekerjaan. Yang ingin dicapai ialah nilai-nilai pekerjaan yang dianggap penting oleh individu. Dikatakan selanjutnya bahwa nilai-nilai pekerjaan harus sesuai atau membantu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan hasil dari tenaga kerja yang berkaitan dengan motivasi kerja.
Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah jumlah dari kepuasan kerja (dari setiap aspek pekerjaan) dikalikan 15 dengan derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu. Seorang individu akan merasa puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, yaitu tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan-keinginannya dengan hasil keluarannya (yang didapatnya).
Sehingga dapat disimpulkan pengertian kepuasan kerja adalah sikap yang positif dari tenaga kerja meliputi perasaan dan tingkah laku terhadap pekerjaannya melalui penilaian salah satu pekerjaan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting pekerjaan.
B.     Teori Kepuasan Kerja
Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat sebagian orang lebih puas terhadap suatu pekerjaan daripada beberapa lainnya. Teori ini juga mencari landasan tentang proses perasaan orang terhadap kepuasan kerja. Ada beberapa teori tentang kepuasan kerja yaitu :
       I.            Two Factor Theory
Teori ini menganjurkan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan merupakan bagian dari kelompok variabel yang berbeda yaitu motivators dan hygiene factors. Ketidakpuasan dihubungkan dengan kondisi disekitar pekerjaan (seperti kondisi kerja, upah, keamanan, kualitas pengawasan dan hubungan dengan orang lain) dan bukan dengan pekerjaan itu sendiri. Karena faktor mencegah 16 reaksi negatif dinamakan sebagai hygiene atau maintainance factors. Sebaliknya kepuasan ditarik dari faktor yang terkait dengan pekerjaan itu sendiri atau hasil langsung daripadanya seperti sifat pekerjaan, prestasi dalam pekerjaan, peluang promosi dan kesempatan untuk pengembangan diri dan pengakuan. Karena faktor ini berkaitan dengan tingkat kepuasan kerja tinggi dinamakan motivators.
    II.            Value Theory
Menurut teori ini kepuasan kerja terjadi pada tingkatan dimana hasil pekerjaan diterima individu seperti diharapkan. Semakin banyak orang menerima hasil, akan semakin puas dan sebaliknya. Kunci menuju kepuasan pada teori ini adalah perbedaan antara aspek pekerjaan yang dimiliki dengan yang diinginkan seseorang. Semakiin besar perbedaan, semakin rendah kepuasan orang.



Contoh Kasus
Bekerja sebenarnya bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan saja. Lebih dari itu, bagi perempuan, bekerja bisa menjadi sarana untuk mengaktualisasikan diri dan mendapat kepuasan pribadi. Menurut survei yang dilakukan Accenture "Defining Success Your Way" tahun 2013, 53 persen perempuan yang bekerja sudah merasa puas dengan pekerjaan dan pencapaian mereka."Dibandingkan survei tahun lalu (2012), di tahun 2013 ini kepuasan kerja perempuan ternyata meningkat sampai 10 persen. Karenanya, mereka tidak berniat untuk mencari pekerjaan yang lain," ungkap Neneng Goenadi, Executive Director dan Country Lead Accenture Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Survei ini juga mengungkapkan bahwa peningkatan kepuasan akan pekerjaan juga disebabkan oleh lingkungan kerja yang lebih menyenangkan dan kondusif untuk peningkatan kinerja mereka. Melalui survei ini, Accenture juga mengungkapkan lingkungan yang ideal dan paling diinginkan para pekerja untuk meningkatkan kepuasan mereka dalam bekerja. Survei ini melaporkan bahwa 59 persen responden mengaku bahwa lingkungan kerja yang baik dan bisa memberikan kepuasan kerja adalah yang tahu bagaimana cara menghargai karyawannya dalam segala hal. "Adanya pengertian dan penghargaan dari bos atau perusahaan bisa meningkatkan semangat pekerja untuk bisa lebih berprestasi, dan meningkatkan kinerja mereka dengan lebih baik".
Perusahaan yang bisa mengerti dan menghargai karyawannya akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan karyawan. Dengan demikian, pada akhirnya semua pihak mendapatkan keuntungan saat mereka berhasil merekrut dan mempertahankan karyawan yang berkinerja baik. Selain itu, responden juga mengungkapkan kondisi lingkungan kerja yang bisa membuat mereka merasa puas bekerja adalah: lingkungan yang fleksibel (50 persen), menyenangkan dan penuh tantangan (49 persen), dan menyenangkan (43 persen). Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh kehadiran partner kerja yang jujur (54 persen), bisa diandalkan dan dipercaya (44 persen), dan pandai (33 persen). Survei online dari Accenture ini dilakukan terhadap 4.100 eksekutif dari organisasi menengah sampai besar dari 33 negara di dunia. Masing-masing negara yang berpartisipasi dalam survei ini memberikan 100 responden, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan jabatan.

ANALISIS
Dari kasus di atas dapat di analisa bahwa kepuasan kerja pada perempuan adanya pengaruh lingkungan kerja yang baik dan bisa memberikan kepuasan kerja dengan cara menghargai karyawannya dalam segala hal. Dengan mengungkapkan bahwa peningkatan kepuasan akan pekerjaan juga disebabkan oleh lingkungan kerja yang lebih menyenangkan dan kondusif untuk peningkatan kinerja mereka. Melalui survei ini, Accenture juga mengungkapkan lingkungan yang ideal dan paling diinginkan para pekerja untuk meningkatkan kepuasan mereka dalam bekerja. Adanya pengertian dan penghargaan dari bos atau perusahaan bisa meningkatkan semangat pekerja untuk bisa lebih berprestasi, dan meningkatkan kinerja mereka dengan lebih baik".
Perusahaan yang bisa mengerti dan menghargai karyawannya akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan karyawan. Dengan demikian, pada akhirnya semua pihak mendapatkan keuntungan saat mereka berhasil merekrut dan mempertahankan karyawan yang berkinerja baik. Selain itu, responden juga mengungkapkan kondisi lingkungan kerja yang bisa membuat mereka merasa puas bekerja adalah: lingkungan yang fleksibel (50 persen), menyenangkan dan penuh tantangan (49 persen), dan menyenangkan (43 persen). Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh kehadiran partner kerja yang jujur (54 persen), bisa diandalkan dan dipercaya (44 persen), dan pandai (33 persen). Survei online dari Accenture ini dilakukan terhadap 4.100 eksekutif dari organisasi menengah sampai besar dari 33 negara di dunia. Masing-masing negara yang berpartisipasi dalam survei ini memberikan 100 responden, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan jabatan.





Sumber :
http://bola.kompas.com/read/2013/04/15/11052416/Kantor.Kondusif.Kepuasan.Kerja.Tercapai


Selasa, 22 November 2016

SOFTSKILL (JOB ENRICHMENT) TUGAS 5

TUGAS 5 SOFTSKILL (JOB ENRICHMENT)

Fakkar Nuansa Pekerti (13514906)
3pa18


Pengertian Job Enrichment
Job Enrichment adalah meningkatkan otonomi seseorang dalam mengukur pekerjaannya. Misalnya, seorang petugas di dalam melakukan pekerjaannya sebelumnya diatur oleh suatu prosedur yang ketat, di mana dia tidak diberikan wewenang atau hak untuk memilih metode yang dia anggap paling efektif, untuk memilih bahan-bahan yang dibutuhkan, atau untuk mengatur pekerjaannya. Perubahan ini akan memberikan tantangan yang lebih besar bagi dia dan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas.

Langkah-langkah dalam redisgn pekerjaan untuk job enrichment
Perancangan Pekerjaan
Pekerjaan yang baik harus lebih dari sekedar sekumpulan tugas yang harus dilakukan sebagaimana yang dihasilkan oleh informasi analisis jabatan. Pekerjaan harus dapat meningkatkan produktivitas, kepuasan, dan mengurangi ketidakhadiran. Oleh karena itu, pekerjaan harus dirancang atau didesain secara baik.
            Job design is concerned with the way that tasks are combined to form complete job. Definisi yang lain mengatakan bahwa desain pekerjaan merupakan fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang karyawan secara organisasional. Penulis mendefinisikan perancangan pekerjaan dengan proses penentuan tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pemegang jabatan, hak untuk mengatur pekerjaan tersebut, dan tanggung jawab dari satu paket pekerjaan. Misalnya, dalam proses pembuatan sebuah meja dalam perusahaan mebel. Untuk menghasilkan sebuah meja yang siap dipasarkan, terdapat serangkaian tugas yang harus dilakukan seperti pemotongan kayu, penghalusan, perakitan, pengecatan, pengeringan, penyimpanan, dan lain-lain. Dalan hal ini, harus ditentukan tugas-tugas yanng diberikan kepada seseorang, apakah kesuluruhan tugas diberikan kepada satu orang ataukah dibagi-bagi kepada beberapa orang, misalnya pemotongan diberikan ke satu orang, penghalusan ke orag yang lainnya, dan seterusnya. Selanjutnya ditentukan hingga sejauh mana wewenang yang dimiliki seseorang dalam penentuan jadwal kerja, penentuan bahan yang dipakai, dan penentuan tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan, dan lain-lain.

Perkembangan-perkembangan dalam Job Enrichment
Beberapa prinsip dalam pelaksanaan job enrichment menurut Herzberg, yaitu :
1.      Meningkatkan tuntutan pekerjaan, yaitu mengubah pekerjaann dengan meningkatkan tingjat kesukaran dan tanggung jawab dalam pekerjaan.
2.      Kebebasan untuk mengatur pekerjaan, yaitu memberikan kebebasan pada pekerja untuk mengatur pekerjaannya.
3.      Peningkatan rasa tanggung jawab pekerja, yaitu membiarkan pekerja mengendalikan pekerjaannya.
4.      Memberikan feedbaack, yaitu memberitahukan pada pekerjaan yang mereka lakukan.
5.      Memberikan pengalaman belajar yang baru, kesempatan pada pekerja pengalaman baru dan pertumbuhan diri.

Contoh langkah-langkah dalam redesign pekerjaan
Suatu perusahaan ingin melakukan upgrade seorang pekerjanya, misal karyawannya menjadi supervisor, namun karena pendidikannya tidak memenuhi standar, untuk menempati posisi sebagai supervisor tingkat pendidikan harus S1 sedangkan karyawan tersebut hanya memiliki ijazah SMA maka perusahaan tersebut mengembangkan dan melakukan redesign pekerjaan yaitu dengan memperbolehkan karyawan melakukan dan melanjutkan pendidikannnya untuk memenuhi standar menjadi supervisor dalam suatu perusahaan dan untuk mendapatkan pelatihan khusus sebagai supervisor.


Daftar Pustaka :
Hariandja, Marihot TE (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia)


Senin, 07 November 2016

Teori Motivasi dan Implikasinya

TUGAS SOFTSKILL


Hasil gambar untuk logo gunadarma 


DISUSUN OLEH :
NAMA : FAKKAR NUANSA PEKERTI
NPM : 13514906
KELAS : 3PA18






FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014





Tugas individu




1.      Jelaskan mengenai teori motivasi reinforcement (penguatan) & Jelaskan implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi !
2.      Jelaskan mengenai  teori motivasi harapan & jelaskan implikasi dari teori harapan dalam perilaku organisasi !
3.      Jelaskan mengenai teori motivasi tujuan & jelaskan implikasi dari teori tujuan dalam perilaku organisasi !
4.      Jelaskan tentang Teori Motivasi Hierarki Kebutuhan Maslow dan jelaskan implikasi dari teori tujuan hirarki kebutuhan maslow dalam perilaku organisasi !




1.      Teori Motivasi (Reinforcement / Penguatan)

Konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu yang lalu barangkali diulang, misalnya, siswa yang rajin belajar dan mendapat nilai bagus diberi hadiah. Sedangkan tingkah laku yang tidak diperkuat atau dihukum tidak akan diulang, misalnya siswa yang menyontek dihukum. Skinner dan ahli teori tingkah laku lain setuju bahwa tidak perlu memisahkan antara teori belajar dan motivasi, karena motivasi secara sederhana adalah hasil dari reinforcement (penguatan). Siswa yang telah di-reinforcemed atau diperkuat untuk belajar (contoh, dengan memberikan nilai yang bagus, atau pujian dari orangtua dan guru) akan “bermotivasi” untuk belajar, tetapi siswa-siswi yang tidak diperkuat untuk belajar, karena mereka telah belajar tetapi tidak mendapatkan nilai yang bagus atau karena orang tuanya atau gurunya tidak memuji belajarnya tidak akan “termotivasi” untuk belajar. Demikian juga siswa yang telah “dihukum” dalam belajarnya, misalnya, ditertawakan oleh siswa-siswa lain, mungkin tidak lagi ber-“motivasi” untuk belajar.

Implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi :

Teori Motivasi (Dalam Djiwandono, Sri Esti Wuryani 2002). Sudah menjelaskan tentang konsep serta implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi dengan contoh Siswa yang akan mempunyai motivasi belajar apabila ada penguatan, dan siswa yang dihukum tidak akan ber-“motivasi” untuk belajar.

Implikasi lain, misalnya, pada karyawan yang mendapatkan reward dari perusahaan karena karyawan tersebut selalu datang tepat waktu dan tidak pernah ada tanpa keterangan (absen) dalam bekerja atau mendapatkan penghargaan ketika karyawan berhasil mencapai target. Sebaliknya, karyawan yang mendapatkan punishment dari lingkungan sekitar atau dari atasan maka karyawan mungkin tidak lagi ber-“motivasi” dalam melakukan pekerjaannya.



2.      Teori Harapan dan Implikasi Praktisnya

Baru-baru ini, salah satu penjelasan tentang motivasi yang paling diterima di mana-mana adalah teori harapan (expectancy theory) dari Victor Vroom. Meskipun mendapatkan kritikan, sebagian besar bukti yang ada mendukung teori ini.
Teori harapan menunjukkan bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi ketika mereka yakin bahwa usaha tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan penghargaan-penghargaan organisasional seperti bonus, kenaikan imbalan kerja, atau promosi; dan penghargaan-penghargaan tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi ketika mereka yakin bahwa usaha tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan penghargaan-penghargaan tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan pribadi para karyawan. Oleh karenanya, teori tersebut berfokus pada tiga hubungan.
A.    Hubungan usaha-kinerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja.
B.     Hubungan kinerja-penghargaan. Tingkat sampai mana individu tersebut yakin bahwa bekerja pada tingkat tertentu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
C.     Hubungan penghargaan - tujuan-tujuan pribadi. Tingkat sampai mana penghargaan-penghargaan organisasional memuaskan tujuan-tujuan pribadi atau kebutuhan-kebutuhan seorang individu dan daya tarik dari penghargaan-penghargaan potensial bagi individu tersebut.

Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak pekerja tidak termotivasi dalam pekerjaan-pekerjaan mereka dan hanya melakukan usaha minimum untuk mencapai sesuatu. Ini sangat jelas ketika kita melihat ketiga hubungan teori tersebut secara lebih mendetail. Kita meghadirkannya dalam bentuk-bentuk pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh karyawan-karyawan dalam bentuk afirmatif bila motivasi mereka ingin dimaksimalkan.



3.      Teori Tujuan dan Implikasi Praktisnya

Gene Broadwater, pelatih tim lari lintas alam Hamilton High School, memberi regunya semangat sebelum mereka mendekati garis perlombaan kejuaraan liga dengan mengatakan : “Kalian semua telah siap secara fisik. Sekarang, keluarlah dan lakukan yang terbaik. Tak seorang pun bisa meminta kalian untuk berbuat lebih dari itu.”
Anda sendiri telah mendengar ucapan ini berkali-kali : “Lakukanlah yang terbaik. Hanya itulah yang bisa diminta.” Tetapi apa arti dari “Lakukan yang terbaik.”? Apakah kita tahu bila kita mencapai tujuan yang tidak jelas itu? Akankah para pelari lintas alam mencatat waktu yang lebih cepat jika pelatih Broadwater memberi setiap orang sebuah tujuan untuk dicapai? Apakah anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam kelas Bahasa Inggris di sekolah menengah atas bila orang tua Anda berkata, “Kamu harus berusaha mendapatkan 85 persen atau lebih tinggi untuk semua tugas Bahasa Inggris!” dari pada memberi tahu Anda untuk “melakukan yang terbaik”? Penelitian tentang teori penentuan tujuan (goal-setting theory) menyampaikan persoalan-persoalan ini dan penemuan-penemuan tersebut, seperti  yang akan Anda lihat, sangat mengesankan sehubungan dengan pengaruh yang dimiliki oleh kekhususan tujuan, tantanganm dan umpan balik terhadap kinerja.
            Pada akhir tahun 1960-an, Edwin Locke mengemukakan bahwa niat untuk mencapai sebuah tujuan merupakan sumber motivasi keja yang utama. Artinya, tujuan memberi tahu seseorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus di keluarkan. Bukti tersebut sangat mendukung nilai tujuan. Kita bisa mengatakan bahwa tujuan khusus meningkatkan kinerja; tujuan yang sulit, ketika diterima, menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari pada tujuan yang mudah; dan umpan balik menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari pada tidak umpan balik.
            Tujuan yang spesifik memperlihatkan tingkat hasil yang lebih tinggi dari pada tujuan umum “lakukan yang terbaik”. Mengapa? Kekhususan dari tujuan itu sendiri tampaknya bertindak sebagai stimulus internal. Sebagai contoh,  ketika seorang pengemudi truk ingin melakukan 12 angkutan perjalanan pulang pergi antara Toronto dan Buffalo, New York, setiap minggu, niat ini memberinya satu tujuan khusus untuk di pertahan kan. Kita bisa berkata bahwa, semua hal yang sama, pengemudi truk yang mempunyai tujuan khusus itu akan bekerja dengan lebih baik daripada seorang rekan yang beroperasi tanpa tujuan atau dengan tujuan umum “lakukan yang terbaik”
            Apabila faktor-faktor sepeti penerimaan tujuan tetap konstan, kita juga bisa menyatakan bahwa semakin sulit tujuan tersebut, semakin tinggi tingkat kinerja. Tentu saja, adalah logis untuk berasumsi bahwa semakin mudah tujuan-tujuan, semakin besar kemungkinan untuk diterima, karyawan tersebut bisa diharapkan untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi untuk berusaha mencapainya.
            Mengapa individu-individu lebih termotivasi oleh tujuan-tujuan yang sulit? Pertama, tujuan-tujuan sulit mengarahkan perhatian kita pada tugas yang sudah ada dan menjauh dari gangguan-gangguan yang tidak relavan. Tujuan-tujuan yang menantang mendapatkan perhatian kita dan akhirnya cenderung membantu kita untuk berfokus. Kedua, tujuan-tujuan sulit menambah semangat karena kita harus bekerja lebih keras untuk mencapainya. Sebagai contoh, pikirkan kebiasaan belajar Anda. Apakah Anda belajar dengan sama kerasnya untuk ujian yang mudah seperti belajar untuk sebuah ujian yang sulit? Barangkali tidak. Ketiga, ketika tujuan-tujuanya sulit, individu tetap berusaha untuk mencapainya. Akhirnya, tujuan-tujuan yang sulit, membuat kita menemukan strategi-strategi yang membantu kita melakukan pekerjaan atau tugas dengan lebih efektif. Apabila harus mengusahakan sebuah sebuah cara untuk menyelesaikan sebuah masalah sulit, kita sering memikirkan cara yang lebih baik untuk memulainya.
            Individu akan bekerja secara lebih baik ketika mereka mendapat umpan balik mengenai seberapa baik kemajuan mereka karena umpan balik membantu mengidentifikasikan ketidaksesuaian antara apa yang telah dan apa yang ingin mereka lakukan; yang berarti, umpan balik berfungsi untuk membimbing perilaku. Tetapi semua umpan balik tidak sama kuatnya. Umpan balik yang dihasilkan sendiri- untuk mana karyawan-karyawan bisa memantau kemajuan mereka sendiri- telah terbukti merupakan motivator yang lebih kuat dari pada umpan balik yang didapat secara eksternal.

Teori Penentuan tujuan mengisyaratkan bahwa seorang berkomitmen pada tujuan tersebut; yang berarti, seorang individu memutuskan untuk tidak merendahkan atau mengabaikan tujuan tersebut. Berdasarkan perilaku, ini berarti bahwa seorang individu (a) yakin ia bisa mencapai tujuan tersebut dan (b) ingin mencapainya. Komitmen tujuan kemungkinan besar muncul ketika tujuan-tujuan diumumkan, ketika individu tersebut mempunyai tempat pengendalian internal, dan ketika tujuan-tujuan ditentukan sendiri, bukan diberikan. Penelitian menunjukkan bahwa teori penentuan tujuan tidak berfungsi dengan sama baik dalam semua tugas. Bukti menunjukkan bahwa tujuan-tujuan tampaknya mempunyai pengaruh yang substansial terhadap kinerja ketika tugas-tugasnya sederhana daripada rumit, telah dipelajari dengan baik daripada baru, dan bebas daripada saling bergantung. Pada tugas-tugas yang saling bergantung, tujuan-tujuan kelompok lebih disukai.
Akhirnya, teori penentuan tujuan terikat pada kultur. Hal ini disesuaikan secara baik dengan negara-negara seperti AS dan Kanada karena komponen-komponen tuamanya sejalan dengan kultur-kultur Amerika Utara. Hal ini mengasumsikan bahwa karyawan akan berdiri sendiri (ukan merupakan nilai yang terlalu tinggi dalam jarak kekuatan), manajer dan karyawan akan mencari tujuan-tujuan yang menantang (rendah dalam penghindaran ketidakpastian), dan kinerja dianggap penting oleh keduanya (tinggi dalam pencapaian). Jadi, jangan harap penentuan tujuan selalu menghasilkan kinerja karyawan yang lebih tinggi di negara-negara seperti Portugal atau Cile, d mana terdapat kondisi yang bertentangan.
Kesimpulan kita secara keseluruhan adalah niat seperti yang dihubungkan dengan tujuan-tujuan yang sulit dan spesifik merupakan kekuatan motivasi yang kuat. Kekuatan yang memotivasi dari teori penentuan tujuan telah ditunjukkan dalam lebih dari 100 tugas yang melibatkan lebih dari 40.000 partisipan di berbagai jenis industri yang berbeda dari kayu, asuransi, sampai mobil. Pada dasarnya, menentukan tujuan yang spesifik dan menantang bagi para karyawan merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan oleh manajer untuk meningkatkan kinerja.



4.      Teori Hierarki dan Kebutuhan Maslow dan Implikasi Praktisnya

Abraham Maslow yang terkenal dengan Teori Hierarki/Jenjang Kebutuhan (Hierarchy of Needs Theory) menyatakan bahwa, manusia pada dasarnya memiliki lima kebutuhan yang bertingkat-tingkat mulai dari kebutuhan yang paling dasar (asasi) sampai pada kebutuhan yang lebih tinggi seseorang harus dapat memenuhi kebutuhan yang ada di tingkat bawahnya. Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh A. Maslow secara lengkap adalah sebagai berikut.

a.       Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) merupakan kebutuhan tingkat pertama dan utama bagi mempertahankan hidup dan kehidupan manusia (survival), misalnya kebutuhan akan makan, minum, pakaian dan perumahan (tempat tinggal). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan hidup manusia yang paling dasar dan setiap manusia memerlukannya tanpa kecuali. Oleh karenanya, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan lainnya dapat dipenuhi.

b.      Kebutuhan Keamanan
Setelah kebutuhan dasar manusia dapat dipenuhi, maka manusia berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman (safety needs), selamat dari segala macam marabahaya yang akan menimpa manusia. Kebutuhan ini sangat diperlukan, karena tanpa adanya rasa aman dari berbagai gangguan yang ada, manusia akan sulit melakukan berbagai kegiatan hidupnya. Contoh sederhana, orang merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika terjadi kerusuhan, pertikaian, pembakaran, dan penjarahan pusat-pusat pertokoan sebagaimana pernah terjadi di berbagai kota di Indonesia, sehingga tidak dapat melakukan berbagai kegiatan produktif di masyarakat.

c.       Kebutuhan Sosial
Jenjang ketiga dalam teori Abraham Maslow adalah kebutuhan sosial (social needs). Pada dasarnya, kebutuhan sosial berkaitan dengan kegiatan kemasyarakatan, bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Di manapun kita berada, baik di kota maupun di desa, hidup dalam kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu antara yang satu dengan yang lain merupakan kebutuhan yang harus diperhatikan. Contoh sederhananya adalah kebutuhan kemasyarakatan yang dilakukan oleh suatu masyarakat dalam melakukan kerja bakti di lingkungan masyarakat seperti kegiatan bersih di lingkungan, kegiatan pengamanan (ronda), kegiatan gotong-royong dalam acara hajatan (seperti acara pernikahan, khitanan, dan sejenisnya).

d.      Kebutuhan Status
Selain pemenuhan akan kebutuhan dasar, manusa juga ingin memenuhi kebutuhan akan status dirinya. Kebutuhan manusia akan status (status needs) berkaitan dengan pengakuan, penghargaan, kedudukan dan tingkatan sosial di masyarakat. Manusia ingin diakui, dihargai, dan dinilai segala kegiatannya di dalam bermasyarakat. Seorang warga masyarakat yang ingin diangkat sebagai seorang bupati atau walikota di suatu daerah merupakan salah satu contoh kebutuhan akan status. Status seseorang dalam suatu masyarakat dapat diukur dari tingkat keimanannya, kebangsawanannya, keilmuannya, jabatannya, atau kekayaannya. Coba anda perhatikan status seseorang di lingkungan masyarakat Anda sendiri.

e.       Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualizations) merupakan tingkatan kebutuhan yang tertinggi menurut Abraham Maslow. Dalam hal ini yang ditekankan adalah bagaimana seseorang mampu menumbuhkan suatu kreativitas, inovasi-inovasi baru, maupun mampu menunjukkan sikap kearifan dan kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan-keputusan penting dalam suatu organisasi.

Dari lima kebutuhan menurut Maslow tentu terdapat implikasi pada setiap poinnya, fisiologis, keamanan, sosial, status, aktualisasi diri.
Misalnya, Kebutuhan Sosial; Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Pada karyawan a, b dan c yang harus memiliki hubungan hidup dalam kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu antara yang satu dengan yang lain merupakan kebutuhan yang harus diperhatikan. Membuat tali persaudaraan karena berada pada lingkungan yang sama, keadaan sosial yang sama, kebutuhan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan karena setiap individu akan merasakan pekerjaan menjadi nyaman dan ringan jika dikerjakan bersama, hal ini juga berpengaruh jika keadaan sosialnya tidak bersahabat atau adanya perselisihan dalam lingkungan sosial, akan ada rasa tidak nyaman bekerja dan tentu kinerja karyawan tidak sesuai dengan harapan, tidak ber-“motivasi” dalam melakukan pekerjaannya.










Daftar Pustaka

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. (2002). Psikologi Pendidikan (Malang: PT Gramedia Widiasarana Indonesia Kompas Gramedia Building)

Robbins, Stephen P. Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi (Jakarta: Salemba Empat)


Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi Bisnis (Jakarta: Erlangga)