Senin, 07 November 2016

Teori Motivasi dan Implikasinya

TUGAS SOFTSKILL


Hasil gambar untuk logo gunadarma 


DISUSUN OLEH :
NAMA : FAKKAR NUANSA PEKERTI
NPM : 13514906
KELAS : 3PA18






FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014





Tugas individu




1.      Jelaskan mengenai teori motivasi reinforcement (penguatan) & Jelaskan implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi !
2.      Jelaskan mengenai  teori motivasi harapan & jelaskan implikasi dari teori harapan dalam perilaku organisasi !
3.      Jelaskan mengenai teori motivasi tujuan & jelaskan implikasi dari teori tujuan dalam perilaku organisasi !
4.      Jelaskan tentang Teori Motivasi Hierarki Kebutuhan Maslow dan jelaskan implikasi dari teori tujuan hirarki kebutuhan maslow dalam perilaku organisasi !




1.      Teori Motivasi (Reinforcement / Penguatan)

Konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu yang lalu barangkali diulang, misalnya, siswa yang rajin belajar dan mendapat nilai bagus diberi hadiah. Sedangkan tingkah laku yang tidak diperkuat atau dihukum tidak akan diulang, misalnya siswa yang menyontek dihukum. Skinner dan ahli teori tingkah laku lain setuju bahwa tidak perlu memisahkan antara teori belajar dan motivasi, karena motivasi secara sederhana adalah hasil dari reinforcement (penguatan). Siswa yang telah di-reinforcemed atau diperkuat untuk belajar (contoh, dengan memberikan nilai yang bagus, atau pujian dari orangtua dan guru) akan “bermotivasi” untuk belajar, tetapi siswa-siswi yang tidak diperkuat untuk belajar, karena mereka telah belajar tetapi tidak mendapatkan nilai yang bagus atau karena orang tuanya atau gurunya tidak memuji belajarnya tidak akan “termotivasi” untuk belajar. Demikian juga siswa yang telah “dihukum” dalam belajarnya, misalnya, ditertawakan oleh siswa-siswa lain, mungkin tidak lagi ber-“motivasi” untuk belajar.

Implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi :

Teori Motivasi (Dalam Djiwandono, Sri Esti Wuryani 2002). Sudah menjelaskan tentang konsep serta implikasi praktis dari teori penguatan dalam perilaku organisasi dengan contoh Siswa yang akan mempunyai motivasi belajar apabila ada penguatan, dan siswa yang dihukum tidak akan ber-“motivasi” untuk belajar.

Implikasi lain, misalnya, pada karyawan yang mendapatkan reward dari perusahaan karena karyawan tersebut selalu datang tepat waktu dan tidak pernah ada tanpa keterangan (absen) dalam bekerja atau mendapatkan penghargaan ketika karyawan berhasil mencapai target. Sebaliknya, karyawan yang mendapatkan punishment dari lingkungan sekitar atau dari atasan maka karyawan mungkin tidak lagi ber-“motivasi” dalam melakukan pekerjaannya.



2.      Teori Harapan dan Implikasi Praktisnya

Baru-baru ini, salah satu penjelasan tentang motivasi yang paling diterima di mana-mana adalah teori harapan (expectancy theory) dari Victor Vroom. Meskipun mendapatkan kritikan, sebagian besar bukti yang ada mendukung teori ini.
Teori harapan menunjukkan bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi ketika mereka yakin bahwa usaha tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan penghargaan-penghargaan organisasional seperti bonus, kenaikan imbalan kerja, atau promosi; dan penghargaan-penghargaan tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi ketika mereka yakin bahwa usaha tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan penghargaan-penghargaan tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan pribadi para karyawan. Oleh karenanya, teori tersebut berfokus pada tiga hubungan.
A.    Hubungan usaha-kinerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja.
B.     Hubungan kinerja-penghargaan. Tingkat sampai mana individu tersebut yakin bahwa bekerja pada tingkat tertentu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
C.     Hubungan penghargaan - tujuan-tujuan pribadi. Tingkat sampai mana penghargaan-penghargaan organisasional memuaskan tujuan-tujuan pribadi atau kebutuhan-kebutuhan seorang individu dan daya tarik dari penghargaan-penghargaan potensial bagi individu tersebut.

Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak pekerja tidak termotivasi dalam pekerjaan-pekerjaan mereka dan hanya melakukan usaha minimum untuk mencapai sesuatu. Ini sangat jelas ketika kita melihat ketiga hubungan teori tersebut secara lebih mendetail. Kita meghadirkannya dalam bentuk-bentuk pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh karyawan-karyawan dalam bentuk afirmatif bila motivasi mereka ingin dimaksimalkan.



3.      Teori Tujuan dan Implikasi Praktisnya

Gene Broadwater, pelatih tim lari lintas alam Hamilton High School, memberi regunya semangat sebelum mereka mendekati garis perlombaan kejuaraan liga dengan mengatakan : “Kalian semua telah siap secara fisik. Sekarang, keluarlah dan lakukan yang terbaik. Tak seorang pun bisa meminta kalian untuk berbuat lebih dari itu.”
Anda sendiri telah mendengar ucapan ini berkali-kali : “Lakukanlah yang terbaik. Hanya itulah yang bisa diminta.” Tetapi apa arti dari “Lakukan yang terbaik.”? Apakah kita tahu bila kita mencapai tujuan yang tidak jelas itu? Akankah para pelari lintas alam mencatat waktu yang lebih cepat jika pelatih Broadwater memberi setiap orang sebuah tujuan untuk dicapai? Apakah anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam kelas Bahasa Inggris di sekolah menengah atas bila orang tua Anda berkata, “Kamu harus berusaha mendapatkan 85 persen atau lebih tinggi untuk semua tugas Bahasa Inggris!” dari pada memberi tahu Anda untuk “melakukan yang terbaik”? Penelitian tentang teori penentuan tujuan (goal-setting theory) menyampaikan persoalan-persoalan ini dan penemuan-penemuan tersebut, seperti  yang akan Anda lihat, sangat mengesankan sehubungan dengan pengaruh yang dimiliki oleh kekhususan tujuan, tantanganm dan umpan balik terhadap kinerja.
            Pada akhir tahun 1960-an, Edwin Locke mengemukakan bahwa niat untuk mencapai sebuah tujuan merupakan sumber motivasi keja yang utama. Artinya, tujuan memberi tahu seseorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus di keluarkan. Bukti tersebut sangat mendukung nilai tujuan. Kita bisa mengatakan bahwa tujuan khusus meningkatkan kinerja; tujuan yang sulit, ketika diterima, menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari pada tujuan yang mudah; dan umpan balik menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari pada tidak umpan balik.
            Tujuan yang spesifik memperlihatkan tingkat hasil yang lebih tinggi dari pada tujuan umum “lakukan yang terbaik”. Mengapa? Kekhususan dari tujuan itu sendiri tampaknya bertindak sebagai stimulus internal. Sebagai contoh,  ketika seorang pengemudi truk ingin melakukan 12 angkutan perjalanan pulang pergi antara Toronto dan Buffalo, New York, setiap minggu, niat ini memberinya satu tujuan khusus untuk di pertahan kan. Kita bisa berkata bahwa, semua hal yang sama, pengemudi truk yang mempunyai tujuan khusus itu akan bekerja dengan lebih baik daripada seorang rekan yang beroperasi tanpa tujuan atau dengan tujuan umum “lakukan yang terbaik”
            Apabila faktor-faktor sepeti penerimaan tujuan tetap konstan, kita juga bisa menyatakan bahwa semakin sulit tujuan tersebut, semakin tinggi tingkat kinerja. Tentu saja, adalah logis untuk berasumsi bahwa semakin mudah tujuan-tujuan, semakin besar kemungkinan untuk diterima, karyawan tersebut bisa diharapkan untuk mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi untuk berusaha mencapainya.
            Mengapa individu-individu lebih termotivasi oleh tujuan-tujuan yang sulit? Pertama, tujuan-tujuan sulit mengarahkan perhatian kita pada tugas yang sudah ada dan menjauh dari gangguan-gangguan yang tidak relavan. Tujuan-tujuan yang menantang mendapatkan perhatian kita dan akhirnya cenderung membantu kita untuk berfokus. Kedua, tujuan-tujuan sulit menambah semangat karena kita harus bekerja lebih keras untuk mencapainya. Sebagai contoh, pikirkan kebiasaan belajar Anda. Apakah Anda belajar dengan sama kerasnya untuk ujian yang mudah seperti belajar untuk sebuah ujian yang sulit? Barangkali tidak. Ketiga, ketika tujuan-tujuanya sulit, individu tetap berusaha untuk mencapainya. Akhirnya, tujuan-tujuan yang sulit, membuat kita menemukan strategi-strategi yang membantu kita melakukan pekerjaan atau tugas dengan lebih efektif. Apabila harus mengusahakan sebuah sebuah cara untuk menyelesaikan sebuah masalah sulit, kita sering memikirkan cara yang lebih baik untuk memulainya.
            Individu akan bekerja secara lebih baik ketika mereka mendapat umpan balik mengenai seberapa baik kemajuan mereka karena umpan balik membantu mengidentifikasikan ketidaksesuaian antara apa yang telah dan apa yang ingin mereka lakukan; yang berarti, umpan balik berfungsi untuk membimbing perilaku. Tetapi semua umpan balik tidak sama kuatnya. Umpan balik yang dihasilkan sendiri- untuk mana karyawan-karyawan bisa memantau kemajuan mereka sendiri- telah terbukti merupakan motivator yang lebih kuat dari pada umpan balik yang didapat secara eksternal.

Teori Penentuan tujuan mengisyaratkan bahwa seorang berkomitmen pada tujuan tersebut; yang berarti, seorang individu memutuskan untuk tidak merendahkan atau mengabaikan tujuan tersebut. Berdasarkan perilaku, ini berarti bahwa seorang individu (a) yakin ia bisa mencapai tujuan tersebut dan (b) ingin mencapainya. Komitmen tujuan kemungkinan besar muncul ketika tujuan-tujuan diumumkan, ketika individu tersebut mempunyai tempat pengendalian internal, dan ketika tujuan-tujuan ditentukan sendiri, bukan diberikan. Penelitian menunjukkan bahwa teori penentuan tujuan tidak berfungsi dengan sama baik dalam semua tugas. Bukti menunjukkan bahwa tujuan-tujuan tampaknya mempunyai pengaruh yang substansial terhadap kinerja ketika tugas-tugasnya sederhana daripada rumit, telah dipelajari dengan baik daripada baru, dan bebas daripada saling bergantung. Pada tugas-tugas yang saling bergantung, tujuan-tujuan kelompok lebih disukai.
Akhirnya, teori penentuan tujuan terikat pada kultur. Hal ini disesuaikan secara baik dengan negara-negara seperti AS dan Kanada karena komponen-komponen tuamanya sejalan dengan kultur-kultur Amerika Utara. Hal ini mengasumsikan bahwa karyawan akan berdiri sendiri (ukan merupakan nilai yang terlalu tinggi dalam jarak kekuatan), manajer dan karyawan akan mencari tujuan-tujuan yang menantang (rendah dalam penghindaran ketidakpastian), dan kinerja dianggap penting oleh keduanya (tinggi dalam pencapaian). Jadi, jangan harap penentuan tujuan selalu menghasilkan kinerja karyawan yang lebih tinggi di negara-negara seperti Portugal atau Cile, d mana terdapat kondisi yang bertentangan.
Kesimpulan kita secara keseluruhan adalah niat seperti yang dihubungkan dengan tujuan-tujuan yang sulit dan spesifik merupakan kekuatan motivasi yang kuat. Kekuatan yang memotivasi dari teori penentuan tujuan telah ditunjukkan dalam lebih dari 100 tugas yang melibatkan lebih dari 40.000 partisipan di berbagai jenis industri yang berbeda dari kayu, asuransi, sampai mobil. Pada dasarnya, menentukan tujuan yang spesifik dan menantang bagi para karyawan merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan oleh manajer untuk meningkatkan kinerja.



4.      Teori Hierarki dan Kebutuhan Maslow dan Implikasi Praktisnya

Abraham Maslow yang terkenal dengan Teori Hierarki/Jenjang Kebutuhan (Hierarchy of Needs Theory) menyatakan bahwa, manusia pada dasarnya memiliki lima kebutuhan yang bertingkat-tingkat mulai dari kebutuhan yang paling dasar (asasi) sampai pada kebutuhan yang lebih tinggi seseorang harus dapat memenuhi kebutuhan yang ada di tingkat bawahnya. Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh A. Maslow secara lengkap adalah sebagai berikut.

a.       Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) merupakan kebutuhan tingkat pertama dan utama bagi mempertahankan hidup dan kehidupan manusia (survival), misalnya kebutuhan akan makan, minum, pakaian dan perumahan (tempat tinggal). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan hidup manusia yang paling dasar dan setiap manusia memerlukannya tanpa kecuali. Oleh karenanya, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan lainnya dapat dipenuhi.

b.      Kebutuhan Keamanan
Setelah kebutuhan dasar manusia dapat dipenuhi, maka manusia berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman (safety needs), selamat dari segala macam marabahaya yang akan menimpa manusia. Kebutuhan ini sangat diperlukan, karena tanpa adanya rasa aman dari berbagai gangguan yang ada, manusia akan sulit melakukan berbagai kegiatan hidupnya. Contoh sederhana, orang merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika terjadi kerusuhan, pertikaian, pembakaran, dan penjarahan pusat-pusat pertokoan sebagaimana pernah terjadi di berbagai kota di Indonesia, sehingga tidak dapat melakukan berbagai kegiatan produktif di masyarakat.

c.       Kebutuhan Sosial
Jenjang ketiga dalam teori Abraham Maslow adalah kebutuhan sosial (social needs). Pada dasarnya, kebutuhan sosial berkaitan dengan kegiatan kemasyarakatan, bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Di manapun kita berada, baik di kota maupun di desa, hidup dalam kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu antara yang satu dengan yang lain merupakan kebutuhan yang harus diperhatikan. Contoh sederhananya adalah kebutuhan kemasyarakatan yang dilakukan oleh suatu masyarakat dalam melakukan kerja bakti di lingkungan masyarakat seperti kegiatan bersih di lingkungan, kegiatan pengamanan (ronda), kegiatan gotong-royong dalam acara hajatan (seperti acara pernikahan, khitanan, dan sejenisnya).

d.      Kebutuhan Status
Selain pemenuhan akan kebutuhan dasar, manusa juga ingin memenuhi kebutuhan akan status dirinya. Kebutuhan manusia akan status (status needs) berkaitan dengan pengakuan, penghargaan, kedudukan dan tingkatan sosial di masyarakat. Manusia ingin diakui, dihargai, dan dinilai segala kegiatannya di dalam bermasyarakat. Seorang warga masyarakat yang ingin diangkat sebagai seorang bupati atau walikota di suatu daerah merupakan salah satu contoh kebutuhan akan status. Status seseorang dalam suatu masyarakat dapat diukur dari tingkat keimanannya, kebangsawanannya, keilmuannya, jabatannya, atau kekayaannya. Coba anda perhatikan status seseorang di lingkungan masyarakat Anda sendiri.

e.       Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualizations) merupakan tingkatan kebutuhan yang tertinggi menurut Abraham Maslow. Dalam hal ini yang ditekankan adalah bagaimana seseorang mampu menumbuhkan suatu kreativitas, inovasi-inovasi baru, maupun mampu menunjukkan sikap kearifan dan kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan-keputusan penting dalam suatu organisasi.

Dari lima kebutuhan menurut Maslow tentu terdapat implikasi pada setiap poinnya, fisiologis, keamanan, sosial, status, aktualisasi diri.
Misalnya, Kebutuhan Sosial; Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Pada karyawan a, b dan c yang harus memiliki hubungan hidup dalam kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu antara yang satu dengan yang lain merupakan kebutuhan yang harus diperhatikan. Membuat tali persaudaraan karena berada pada lingkungan yang sama, keadaan sosial yang sama, kebutuhan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan karena setiap individu akan merasakan pekerjaan menjadi nyaman dan ringan jika dikerjakan bersama, hal ini juga berpengaruh jika keadaan sosialnya tidak bersahabat atau adanya perselisihan dalam lingkungan sosial, akan ada rasa tidak nyaman bekerja dan tentu kinerja karyawan tidak sesuai dengan harapan, tidak ber-“motivasi” dalam melakukan pekerjaannya.










Daftar Pustaka

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. (2002). Psikologi Pendidikan (Malang: PT Gramedia Widiasarana Indonesia Kompas Gramedia Building)

Robbins, Stephen P. Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi (Jakarta: Salemba Empat)


Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi Bisnis (Jakarta: Erlangga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar