Membidik laba cantik dari penjualan
lensa fisheye
Perkembangan
teknologi menciptakan ceruk bisnis baru. Lihat saja salah satunya adalah
peluang bisnis menjadi reseller produk lensa fisheye atau mata ikan yang kini
sedang populer di kalangan anak muda. Ini adalah lensa terpisah yang bisa
dipasang di berbagai ponsel pintar untuk membuat efek foto surealis melengkung
seperti di kamera profesional DSLR.
Salah
satu pelaku usaha lensa mata ikan ini adalah Ferdinand Saragih. Dia menjual
lensa jelly fisheye dan fisheye 3in1. Produk lensa fisheye 3in1 terdiri dari
tiga lensa yang bisa membuat efek berlainan yakni lensa fisheye, wide dan lensa
macro. Dia mengaku mengikuti tren berjualan produk ini.
Awalnya
dia terinspirasi menggeluti bisnis ini sejak bertandang ke konter ponsel di
Bandung. Pada saat itu banyak masyarakat yang mencari lensa fisheye. "Dari
situlah saya berniat menjalani bisnis yang sedang berkembang ini," kata
dia.
Ferdinand
memulai berjualan lensa mata ikan pada tahun 2013 lewat Facebook. Dia mengambil
pasokan produk dari importir di Tanjung Priok. Sebagian besar pembeli lensa ini
adalah kaum muda. Dalam sehari Ferdinand bisa menjual 20 paket fisheye. Lokasi
pembeli mulai dari Jabodetabek hingga Papua dan Aceh.
Dia
menjual produk jelly fisheye sekitar Rp 25.000 per bungkus dan lensa fisheye
3in1 seharga Rp 59.000 per bungkus. Dia bisa meraup omzet sekitar Rp 1,18 juta
per bulan atau sekitar Rp 35 juta per bulan.
Ferdinand
bilang, belakangan produk yang sedang banyak dicari adalah fisheye 3in1 karena bisa
mendapat tiga lensa yang bisa memberi efek berbeda. Tren ini bergeser dari
sebelumnya lensa jelly fisheye yang lebih dulu populer.
Karena
target pasarnya adalah anak-anak muda, sehingga media promosi yang dipakai
Ferdinand pun menggunakan media sosial, toko online dan forum komunitas seperti
Kaskus, Olx, dan Facebook.
Sementara,
Izulkarnaen, penjual lensa fisheye lainnya baru saja memulai usaha di awal
2014. Area pembeli produk selama ini banyak berasal dari wilayah Jabodetabek.
Ada juga beberapa pembeli berasal dari Kalimantan.
Pria
yang akrab disapa Izul ini dapat menjual sekitar lima lensa per hari atau
sekitar 100 lensa dalam satu bulan. Izul menjual lensa fisyeye 3in1 seharga Rp
90.000 untuk harga eceran dan Rp 30.000 untuk harga grosir. "Kebanyakan
pembeli membeli secara grosir untuk dijual lagi," kata dia.
Izul
mengaku bisa meraup omzet Rp 3 juta sampai-4 juta sebulan. Dia menggunakan
kaskus.co.id dan Istagram sebagai media penjualan. Namun, Izul bilang, kini
sudah ada beberapa ponsel pintar yang memiliki aplikasi fisheye di dalamnya.
Sehingga
dia menganggap ke depannya orang tidak lagi butuh lensa tambahan seperti ini
lagi. Meski begitu, dia optimistis usaha ini masih akan tetap ada
peminatnya.
Sejarah
:
Lensa
fisheye mulai dikembangkan oleh Nikon pada tahun 1935. Pada bulan Maret
tahun 1957, lensa ini semakin disempurnakan dan digunakan untuk keperluan
meteorologi dan pertahanan di Jepang. Pada tahun 1960, lensa fisheye telah
tersedia untuk masyarakat umum dan dapat dibeli bebas.
Beberapa
tahun belakangan ini lahir lensa fisheye untuk smartphone, belum jelas siapa
penemu fisheye untuk smarthphone yang dibutuhkan masyarakat umum khususnya kaum
remaja, dengan adanya produk unik tersebut kita tidak perlu lagi menguras
kantong untuk membeli lensa fisheye SLR yang harganya berkisar 4 – 8 juta.
Jelas produk fisheye untuk handphone sangat kreatif, dengan berkembangnya jaman
yang kian modern, ketika remaja berpergian dan momentnya tidak ingin
terlewatkan, mereka menyerbu produk kreatif tersebut untuk kebutuhan sehingga
menjadikan laba cantik kepada para penjual produk kreatif tersebut (fish eye)
Pebisnis hebat asal Indonesia
melalu kreatif dan inovatif
RABU (11/6)
malam, sekitar pukul 21.00 waktu setempat, cuaca Singapura begitu panas.
Lantaran tak betah berdiam diri di hotel, wartawan media ini memilih berjalan-jalan.
Kebetulan seorang teman di kamar sebelah, juga sedang ingin menikmati suasana
malam di negeri singa.
Dengan
mengendarai moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT), kami menuju kawasan
Orchard. Tak sampai 10 menit dari stasiun Dhoby Ghaut. Kata teman media koran
ini, kami akan menemui seseorang yang dianggapnya sebagai hantu di dunia
jejaring sosial.
Bertempat
di Oriole cafe di kawasan Somerset, kami menjumpai hantu jejaring sosial itu.
Perawakannya justru berbanding terbalik dengan hantu. Kepalanya memang plontos,
tapi bukan tuyul. Badannya tegap tinggi dengan perut yang sedikit buncit.
"Gue Babab," katanya, mengenalkan diri.
Babab
merupakan nama populernya di dunia maya. Di blognya, ia menulis, Babab bukan
berarti singkatan dari buang air besar agak banyak. Tapi, itu merupakan
panggilan kesayangan yang diucapkan anaknya. "Tapi terbawa sampai
sekarang. Jadi teman gue juga manggil Babab," ujarnya.
Sepintas,
tak ada yang spesial dari laki-laki yang bekerja di sebuah provider ternama
ini. Namun, kesan spesial itu seketika berpendar kala ia mengeluarkan sebuah
peranti dari tas selempangnya.
Voila!
Babab mengeluarkan tongkat dengan panjang sejengkal. Namun, ketika
dipanjangkan, bisa mencapai 1,3 meter. Kemudian, Babab menyelipkan ponsel di
bagian ujung tongkat itu. "Cheeersss..." cetusnya. Mendengar itu,
sontak kami bergaya.
Ya,
peranti yang Babab keluarkan itu bukan sesuatu yang asing akhir-akhir ini. Itu
tongsis alias tongkat narsis. Babab adalah sang kreator tongkat yang semula
diberi nama tongkat ajaib ini. "Terpaksa gue ganti namanya biar lebih
familiar dan nge-brand," terang pemilik akun twitter @bababdito ini.
Tak
ada Babab maka tak pernah ada tongsis. Ide gila ini bermula dari kegilaan juga.
Dulunya, di era-era tenarnya pelbagai aplikasi jejaring sosial, Babab mengaku
bisa menghabiskan waktunya 10 jam tiap harinya, hanya sekadar menatap layar
ponselnya. "Pokoknya, saat itu, gue nggak bisa lepas dari socmed (social
media, red)," ungkap penyandang gelar sarjana hukum ini.
Setelah
memiliki beragam akun jejaring sosial, mulai tercetus di benak Babab untuk
menciptakan peranti yang memudahkan setiap orang mengambil potret dirinya
sendiri tanpa harus meminta tolong orang lain, atau yang marak disebut selfie.
Ide itu kemudian tersambung lewat monopod yang dimilikinya. Kemudian,
iseng-iseng ia sambungkan dengan pengikat ponsel yang biasa dipakai sekadar
untuk memajang ponsel di etalase.
Setelah
menemukan bentuk idealnya, Babab membawa peranti rancangannya itu pada temu
komunitas iphonesia, pengguna ponsel iphone, di Labuhan Bajo. Di situ, sembari
ketawa-ketiwi ia sibuk selfie di tepi kapal. "Temen-temen gue pada
nanyain, alat apaan ini? Ya, gue jelasin ini tongkat ajaib. Elo bisa selfie
dengan high-angel," tutur Babab.
Akhirnya,
satu demi satu teman sesama iphonesia mulai mengorder peranti yang kemudian
beralih nama menjadi tongsis itu. Puncak kepopuleran tongsis dua tahun lalu,
ketika ibu negara Ani Yudhoyono, yang hobi fotografi, dihadiahi tongsis oleh
anak-anak iphonesia. "Habis foto tongsis yang dipakai Bu Ani terpublish di
social media, rame banget deh orderan," kelakarnya. Sayangnya, Babab
enggan menyebutkan orderan tongsis yang telah diproduksinya selama ini.
"Ada deh," ucapnya seraya tertawa.
Babab
mengaku, tak pernah menyangka ide yang bermula dari hobi selfie-nya ini justru
mendatangkan pundi-pundi rupiah. "Lha gue aja modalnya cuma sejuta. Itu
pun pakai kredit," ungkapnya. Dari uang sejuta itu, tongsis mulai
mendunia.
Ada
beberapa negara yang menjadi pemasok setia tongsis buatan Babab. Seperti
sejumlah negara Asia Tenggara, hingga merambah ke Korea Selatan, Jepang, dan
Cina. "Kemarin ada beberapa pemasok dari London yang juga sempat
ngorder," tambah Babab.
Seiring
ketenaran tongsis, marak pula kreator tandingan. Melihat kondisi ini, Babab
merasa kecolongan. "Gue pikir yang beginian (tongsis, red) gak bisa
dipatenin," katanya. Namun, setelah bersua Yoris Sebastian, pengusaha yang
bergerak di bidang industri kreatif, Babab baru tahu, kreasinya ini bisa
dipatenkan.
Enggan
kecolongan lebih lama, dibantu Yoris Sebastian, Babab kemudian mendaftarkan
tongsis agar memiliki hak paten. Tidak tanggung-tanggung. Pada 20 September
2012 silam, temuan tongsis ini dipatenkan hingga ke Amerika Serikat.
"Yoris yang banyak bantu gue soal pencarian hak paten ini," ujarnya.
Hanya saja Babab menyayangkan, meski sudah dua tahun didaftarkan, sertifikat
hak paten tongsis belum juga keluar. "Kalau sertifikatnya udah keluar, ya
orang kalau mau beli tongsis ya harus ke gue," harapnya.
Saat
ini, sembari menunggu sertifikat hak paten itu sampai di tangannya, Babab tak
berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya bekerja, Babab masih meluangkan
waktunya untuk meningkatkan mutu dan kualitas tongsis.
Impiannya,
ia ingin tongsis hanya dirakit di Indonesia. "Barang bakunya boleh dari
mana aja, asal tetap di Indonesia buat merakitnya," ujarnya. Kemudian,
sambungnya, Babab sekarang sedang mengutak-atik tongsis yang coba dipadukan
dengan kekayaan khazanah Indonesia. "Gue pengin monopod tongsis itu bisa
customize. Misalnya, yang udah gue buat nih, gua lukis tongkatnya itu dengan
motif batik," ujarnya.
Sedangkan
proyek yang lebih gilanya, Babab ingin memodifikasi bentuk fisik tongsis. Ia
menyadari, makin hari, orang makin malas membawa peranti tongkat sepanjang
jengkal tangan dewasa ini. Tapi, Babab tak kehabisan akal. "Orang boleh
malas bawa tongsis, tapi orang nggak pernah malas bawa powerbank kan
kemana-mana. Kenapa? Karena bentuknya yang simpel. Tongsis kan nggak mungkin
dikantongin," cetusnya. Sehingga, Babab sedang merancang tongsis dengan
bentuk ceper, menyerupai power bank, tanpa mengesampingkan fungsi utama tongsis
sebagai peranti pendukung selfie dan daya tahannya. "Itu yang lagi gue
pikirin," ujarnya.
Selain
promo jor-joran lewat jejaring sosial, Babab kini juga sudah punya website
resmi untuk memesan tongsis. "Elo bisa akses tongsis.net buat tahu lebih
banyak tongsis," selorohnya. Dari situ pula, tongsis kini sudah tersebar
dari Sabang sampai Merauke.
Apa
Babab tak takut bila suatu hari tongsisnya ini tak lagi digemari orang?
Mendengar pertanyaan ini, Babab tergelak. "Gue yakin, urusan narsis, orang
Indonesia juaranya," kelakarnya. (*)
Kesimpulan
:
Seiring
dengan berkembangnya zaman, teknologi selalu saja tak mau kalah dengan zaman
yang selalu memberikan sesuatu yang baru. Fisheye dan tongsis merupakan
aksesoris yang paling dicari untuk melengkapi kebutuhan smartphonenya, berpikir
maka tumpahkanlah dalam suatu karya, itu mungkin sebuah alasan penemu ide-ide
konyol tersebut yang sekarang menarik rupiah dengan menambahkan apa yang sudah
berhasil diciptakan terus dikembangkan, contohnya fisheye 3 in 1 atau tongsis
yang mempunyai Bluetooth, dan terus dikembangkan dengan berpikir. Mengembangkan
penemuannya, melebihkan fungsinya atau menjadikan alat penemuannya untuk bisa
multifungsi, apa yang ada dipikirkannya selalu ditumpahkan ke dalam karya dan
mencari cara agar karyanya diketahui orang itulah yang dapat dikatakan kreatif
inovatif bisnis.
Sampai
saat ini banyak orang bertanya, mengapa kreatif bisa menjadi bisnis? Hal
pertama yang harus dilakukan untuk melakukan ini mungkin kita bisa membuang
rasa malu. Karena malu (merasa tidak enak hati / segan melakukan sesuatu)
menurut kami bisa menutup kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu, percaya
diri adalah tanaman yang subur untuk kita semua. Dengan percaya diri kita bisa
menunjukkan sesuatu kepada orang lain meski hasil yang kita buat belum tentu
selalu baik, tidak harus selalu baik untuk menunjukkan sesuatu. Kita bisa
meraup rupiah dengan mudah, terlebih dengan kemampuan yang terpendam pada
masing-masing orang, jika saja kami boleh mengajak teman berandai-andai untuk
meraup rupiah dengan cara yang agak aneh mungkin sedikit terlihat lebih mudah,
bawa saja karpet dan ember dengan tulisan orang aneh pada saat acara car free
day, untuk menarik perhatian, kita harus berdiri diatas karpet dan kita joget
uler atau pura-pura menjadi guru silat di akhir pekan, sekaligus untuk
refreshing otak. Berlibur tidak harus selalu ke pantai ataupun gunung. Car free
day merupakan salah satu wadah untuk olahraga, berlibur, serta mencari uang,
banyak ditemukan pedagang dipinggir jalan, bukan hanya pedagang bahkan mereka
yang menarik perhatian melalui seni bisa mendapatkan rupiah yang lumayan
jumlahnya.
Inovatif
juga membutuhkan keberanian seperti cerita CFD tadi, jangan segan untuk
melakukan suatu hal yang baik, orang yang dengan tingkat keberhasilannya tinggi
yaitu orang yang berani, mereka yang memiliki jiwa menguasai. Banyak bakat
terpendam pada orang yang sebenarnya bisa dijadikan sesuatu yang mewah, namun
mereka tidak tau bagaimana menyalurkan bakatnya tersebut. Contohlah Babab
seorang penemu tongsis, babab tidak akan berhasil seperti sekarang jika dia
malu untuk menunjukkan suatu karya miliknya, dengan tingkat keberanian yang
hebat dia memulai bisnis tersebut dengan mengenalkan karya miliknya pada teman2
yang produknya sekarang dikenal bukan hanya di Indonesia. Juga kita bisa
mencontoh Ferdinand Saragih, sosoknya mampu mengerti situasi dan kondisi,
ketika banyak orang mencari dia menggunakan peluangnya. Reseller lain juga sama
suksesnya, izul yang mampu meraup rupiah dari 3 hingga 4 juta perbulan. Itu
semua karena mereka mampu mengerti suasana dan menguasai keberanian. Produk
kreatif melalui perkembangan teknologi yang menciptakan ceruk bisnis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar