Minggu, 19 April 2015

Fenomena Kreatif dan Inovatif di bidang bisnis

Membidik laba cantik dari penjualan lensa fisheye

Perkembangan teknologi menciptakan ceruk bisnis baru. Lihat saja salah satunya adalah peluang bisnis menjadi reseller produk lensa fisheye atau mata ikan yang kini sedang populer di kalangan anak muda. Ini adalah lensa terpisah yang bisa dipasang di berbagai ponsel pintar untuk membuat efek foto surealis melengkung seperti di kamera profesional DSLR.
Salah satu pelaku usaha lensa mata ikan ini adalah Ferdinand Saragih. Dia menjual lensa jelly fisheye dan fisheye 3in1. Produk lensa fisheye 3in1 terdiri dari tiga lensa yang bisa membuat efek berlainan yakni lensa fisheye, wide dan lensa macro.  Dia mengaku mengikuti tren berjualan produk ini.
Awalnya dia terinspirasi menggeluti bisnis ini sejak bertandang ke konter ponsel di Bandung. Pada saat itu banyak masyarakat yang mencari lensa fisheye. "Dari situlah saya berniat menjalani bisnis yang sedang berkembang ini," kata dia.
Ferdinand memulai berjualan lensa mata ikan pada tahun 2013 lewat Facebook. Dia mengambil pasokan produk dari importir di Tanjung Priok. Sebagian besar pembeli lensa ini adalah kaum muda. Dalam sehari Ferdinand bisa menjual 20 paket fisheye. Lokasi pembeli mulai dari Jabodetabek hingga Papua dan Aceh.
Dia menjual produk jelly fisheye sekitar Rp 25.000 per bungkus dan lensa fisheye 3in1 seharga Rp 59.000 per bungkus. Dia bisa meraup omzet sekitar Rp 1,18 juta per bulan atau sekitar Rp 35 juta per bulan.
Ferdinand bilang, belakangan produk yang sedang banyak dicari adalah fisheye 3in1 karena bisa mendapat tiga lensa yang bisa memberi efek berbeda. Tren ini bergeser dari sebelumnya lensa jelly fisheye yang lebih dulu populer.
Karena target pasarnya adalah anak-anak muda, sehingga media promosi yang dipakai Ferdinand pun menggunakan media sosial, toko online dan forum komunitas seperti Kaskus, Olx, dan Facebook.
Sementara, Izulkarnaen, penjual lensa fisheye lainnya baru saja memulai usaha di awal 2014. Area pembeli produk selama ini banyak berasal dari wilayah Jabodetabek. Ada juga beberapa pembeli berasal dari Kalimantan.
Pria yang akrab disapa Izul ini dapat menjual sekitar lima lensa per hari atau sekitar 100 lensa dalam satu bulan. Izul menjual lensa fisyeye 3in1 seharga Rp 90.000 untuk harga eceran dan Rp 30.000 untuk harga grosir. "Kebanyakan pembeli membeli secara grosir untuk dijual lagi," kata dia.
Izul mengaku bisa meraup omzet Rp 3 juta sampai-4 juta sebulan. Dia menggunakan kaskus.co.id dan Istagram sebagai media penjualan. Namun, Izul bilang, kini sudah ada beberapa ponsel pintar yang memiliki aplikasi fisheye di dalamnya.
Sehingga dia menganggap ke depannya orang tidak lagi butuh lensa tambahan seperti ini lagi.  Meski begitu, dia optimistis usaha ini masih akan tetap ada peminatnya.
Sejarah :
Lensa fisheye mulai dikembangkan oleh Nikon pada tahun 1935. Pada bulan Maret tahun 1957, lensa ini semakin disempurnakan dan digunakan untuk keperluan meteorologi dan pertahanan di Jepang. Pada tahun 1960, lensa fisheye telah tersedia untuk masyarakat umum dan dapat dibeli bebas.
Beberapa tahun belakangan ini lahir lensa fisheye untuk smartphone, belum jelas siapa penemu fisheye untuk smarthphone yang dibutuhkan masyarakat umum khususnya kaum remaja, dengan adanya produk unik tersebut kita tidak perlu lagi menguras kantong untuk membeli lensa fisheye SLR yang harganya berkisar 4 – 8 juta. Jelas produk fisheye untuk handphone sangat kreatif, dengan berkembangnya jaman yang kian modern, ketika remaja berpergian dan momentnya tidak ingin terlewatkan, mereka menyerbu produk kreatif tersebut untuk kebutuhan sehingga menjadikan laba cantik kepada para penjual produk kreatif tersebut (fish eye)




Pebisnis hebat asal Indonesia melalu kreatif dan inovatif
RABU (11/6) malam, sekitar pukul 21.00 waktu setempat, cuaca Singapura begitu panas. Lantaran tak betah berdiam diri di hotel, wartawan media ini memilih berjalan-jalan. Kebetulan seorang teman di kamar sebelah, juga sedang ingin menikmati suasana malam di negeri singa. 
Dengan mengendarai moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT), kami menuju kawasan Orchard. Tak sampai 10 menit dari stasiun Dhoby Ghaut. Kata teman media koran ini, kami akan menemui seseorang yang dianggapnya sebagai hantu di dunia jejaring sosial. 
Bertempat di Oriole cafe di kawasan Somerset, kami menjumpai hantu jejaring sosial itu. Perawakannya justru berbanding terbalik dengan hantu. Kepalanya memang plontos, tapi bukan tuyul. Badannya tegap tinggi dengan perut yang sedikit buncit. "Gue Babab," katanya, mengenalkan diri. 
Babab merupakan nama populernya di dunia maya. Di blognya, ia menulis, Babab bukan berarti singkatan dari buang air besar agak banyak. Tapi, itu merupakan panggilan kesayangan yang diucapkan anaknya. "Tapi terbawa sampai sekarang. Jadi teman gue juga manggil Babab," ujarnya. 
Sepintas, tak ada yang spesial dari laki-laki yang bekerja di sebuah provider ternama ini. Namun, kesan spesial itu seketika berpendar kala ia mengeluarkan sebuah peranti dari tas selempangnya. 
Voila! Babab mengeluarkan tongkat dengan panjang sejengkal. Namun, ketika dipanjangkan, bisa mencapai 1,3 meter. Kemudian, Babab menyelipkan ponsel di bagian ujung tongkat itu. "Cheeersss..." cetusnya. Mendengar itu, sontak kami bergaya. 
Ya, peranti yang Babab keluarkan itu bukan sesuatu yang asing akhir-akhir ini. Itu tongsis alias tongkat narsis. Babab adalah sang kreator tongkat yang semula diberi nama tongkat ajaib ini. "Terpaksa gue ganti namanya biar lebih familiar dan nge-brand," terang pemilik akun twitter @bababdito ini. 
Tak ada Babab maka tak pernah ada tongsis. Ide gila ini bermula dari kegilaan juga. Dulunya, di era-era tenarnya pelbagai aplikasi jejaring sosial, Babab mengaku bisa menghabiskan waktunya 10 jam tiap harinya, hanya sekadar menatap layar ponselnya. "Pokoknya, saat itu, gue nggak bisa lepas dari socmed (social media, red)," ungkap penyandang gelar sarjana hukum ini. 
Setelah memiliki beragam akun jejaring sosial, mulai tercetus di benak Babab untuk menciptakan peranti yang memudahkan setiap orang mengambil potret dirinya sendiri tanpa harus meminta tolong orang lain, atau yang marak disebut selfie. Ide itu kemudian tersambung lewat monopod yang dimilikinya. Kemudian, iseng-iseng ia sambungkan dengan pengikat ponsel yang biasa dipakai sekadar untuk memajang ponsel di etalase. 
Setelah menemukan bentuk idealnya, Babab membawa peranti rancangannya itu pada temu komunitas iphonesia, pengguna ponsel iphone, di Labuhan Bajo. Di situ, sembari ketawa-ketiwi ia sibuk selfie di tepi kapal. "Temen-temen gue pada nanyain, alat apaan ini? Ya, gue jelasin ini tongkat ajaib. Elo bisa selfie dengan high-angel," tutur Babab. 
Akhirnya, satu demi satu teman sesama iphonesia mulai mengorder peranti yang kemudian beralih nama menjadi tongsis itu. Puncak kepopuleran tongsis dua tahun lalu, ketika ibu negara Ani Yudhoyono, yang hobi fotografi, dihadiahi tongsis oleh anak-anak iphonesia. "Habis foto tongsis yang dipakai Bu Ani terpublish di social media, rame banget deh orderan," kelakarnya. Sayangnya, Babab enggan menyebutkan orderan tongsis yang telah diproduksinya selama ini. "Ada deh," ucapnya seraya tertawa. 
Babab mengaku, tak pernah menyangka ide yang bermula dari hobi selfie-nya ini justru mendatangkan pundi-pundi rupiah. "Lha gue aja modalnya cuma sejuta. Itu pun pakai kredit," ungkapnya. Dari uang sejuta itu, tongsis mulai mendunia. 
Ada beberapa negara yang menjadi pemasok setia tongsis buatan Babab. Seperti sejumlah negara Asia Tenggara, hingga merambah ke Korea Selatan, Jepang, dan Cina. "Kemarin ada beberapa pemasok dari London yang juga sempat ngorder," tambah Babab. 
Seiring ketenaran tongsis, marak pula kreator tandingan. Melihat kondisi ini, Babab merasa kecolongan. "Gue pikir yang beginian (tongsis, red) gak bisa dipatenin," katanya. Namun, setelah bersua Yoris Sebastian, pengusaha yang bergerak di bidang industri kreatif, Babab baru tahu, kreasinya ini bisa dipatenkan. 
Enggan kecolongan lebih lama, dibantu Yoris Sebastian, Babab kemudian mendaftarkan tongsis agar memiliki hak paten. Tidak tanggung-tanggung. Pada 20 September 2012 silam, temuan tongsis ini dipatenkan hingga ke Amerika Serikat. "Yoris yang banyak bantu gue soal pencarian hak paten ini," ujarnya. Hanya saja Babab menyayangkan, meski sudah dua tahun didaftarkan, sertifikat hak paten tongsis belum juga keluar. "Kalau sertifikatnya udah keluar, ya orang kalau mau beli tongsis ya harus ke gue," harapnya. 
Saat ini, sembari menunggu sertifikat hak paten itu sampai di tangannya, Babab tak berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya bekerja, Babab masih meluangkan waktunya untuk meningkatkan mutu dan kualitas tongsis. 
Impiannya, ia ingin tongsis hanya dirakit di Indonesia. "Barang bakunya boleh dari mana aja, asal tetap di Indonesia buat merakitnya," ujarnya. Kemudian, sambungnya, Babab sekarang sedang mengutak-atik tongsis yang coba dipadukan dengan kekayaan khazanah Indonesia. "Gue pengin monopod tongsis itu bisa customize. Misalnya, yang udah gue buat nih, gua lukis tongkatnya itu dengan motif batik," ujarnya. 
Sedangkan proyek yang lebih gilanya, Babab ingin memodifikasi bentuk fisik tongsis. Ia menyadari, makin hari, orang makin malas membawa peranti tongkat sepanjang jengkal tangan dewasa ini. Tapi, Babab tak kehabisan akal. "Orang boleh malas bawa tongsis, tapi orang nggak pernah malas bawa powerbank kan kemana-mana. Kenapa? Karena bentuknya yang simpel. Tongsis kan nggak mungkin dikantongin," cetusnya. Sehingga, Babab sedang merancang tongsis dengan bentuk ceper, menyerupai power bank, tanpa mengesampingkan fungsi utama tongsis sebagai peranti pendukung selfie dan daya tahannya. "Itu yang lagi gue pikirin," ujarnya. 
Selain promo jor-joran lewat jejaring sosial, Babab kini juga sudah punya website resmi untuk memesan tongsis. "Elo bisa akses tongsis.net buat tahu lebih banyak tongsis," selorohnya. Dari situ pula, tongsis kini sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. 
Apa Babab tak takut bila suatu hari tongsisnya ini tak lagi digemari orang? Mendengar pertanyaan ini, Babab tergelak. "Gue yakin, urusan narsis, orang Indonesia juaranya," kelakarnya. (*)



Kesimpulan :
Seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi selalu saja tak mau kalah dengan zaman yang selalu memberikan sesuatu yang baru. Fisheye dan tongsis merupakan aksesoris yang paling dicari untuk melengkapi kebutuhan smartphonenya, berpikir maka tumpahkanlah dalam suatu karya, itu mungkin sebuah alasan penemu ide-ide konyol tersebut yang sekarang menarik rupiah dengan menambahkan apa yang sudah berhasil diciptakan terus dikembangkan, contohnya fisheye 3 in 1 atau tongsis yang mempunyai Bluetooth, dan terus dikembangkan dengan berpikir. Mengembangkan penemuannya, melebihkan fungsinya atau menjadikan alat penemuannya untuk bisa multifungsi, apa yang ada dipikirkannya selalu ditumpahkan ke dalam karya dan mencari cara agar karyanya diketahui orang itulah yang dapat dikatakan kreatif inovatif bisnis.
Sampai saat ini banyak orang bertanya, mengapa kreatif bisa menjadi bisnis? Hal pertama yang harus dilakukan untuk melakukan ini mungkin kita bisa membuang rasa malu. Karena malu (merasa tidak enak hati / segan melakukan sesuatu) menurut kami bisa menutup kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu, percaya diri adalah tanaman yang subur untuk kita semua. Dengan percaya diri kita bisa menunjukkan sesuatu kepada orang lain meski hasil yang kita buat belum tentu selalu baik, tidak harus selalu baik untuk menunjukkan sesuatu. Kita bisa meraup rupiah dengan mudah, terlebih dengan kemampuan yang terpendam pada masing-masing orang, jika saja kami boleh mengajak teman berandai-andai untuk meraup rupiah dengan cara yang agak aneh mungkin sedikit terlihat lebih mudah, bawa saja karpet dan ember dengan tulisan orang aneh pada saat acara car free day, untuk menarik perhatian, kita harus berdiri diatas karpet dan kita joget uler atau pura-pura menjadi guru silat di akhir pekan, sekaligus untuk refreshing otak. Berlibur tidak harus selalu ke pantai ataupun gunung. Car free day merupakan salah satu wadah untuk olahraga, berlibur, serta mencari uang, banyak ditemukan pedagang dipinggir jalan, bukan hanya pedagang bahkan mereka yang menarik perhatian melalui seni bisa mendapatkan rupiah yang lumayan jumlahnya.

Inovatif juga membutuhkan keberanian seperti cerita CFD tadi, jangan segan untuk melakukan suatu hal yang baik, orang yang dengan tingkat keberhasilannya tinggi yaitu orang yang berani, mereka yang memiliki jiwa menguasai. Banyak bakat terpendam pada orang yang sebenarnya bisa dijadikan sesuatu yang mewah, namun mereka tidak tau bagaimana menyalurkan bakatnya tersebut. Contohlah Babab seorang penemu tongsis, babab tidak akan berhasil seperti sekarang jika dia malu untuk menunjukkan suatu karya miliknya, dengan tingkat keberanian yang hebat dia memulai bisnis tersebut dengan mengenalkan karya miliknya pada teman2 yang produknya sekarang dikenal bukan hanya di Indonesia. Juga kita bisa mencontoh Ferdinand Saragih, sosoknya mampu mengerti situasi dan kondisi, ketika banyak orang mencari dia menggunakan peluangnya. Reseller lain juga sama suksesnya, izul yang mampu meraup rupiah dari 3 hingga 4 juta perbulan. Itu semua karena mereka mampu mengerti suasana dan menguasai keberanian. Produk kreatif melalui perkembangan teknologi yang menciptakan ceruk bisnis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar