Jumat, 23 September 2016

TUGAS 1 PSIKOLOGI MANAGEMENT


 


Di Susun Oleh              : FAKKAR NUANSA PEKERTI
Kelas                            : 3PA18
Dosen                           : NATALIE KONRADUS 



PSIKOLOGI MANAGEMENT

A.     Arti Psikologi
 Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.[1]Psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut, yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya. Sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.
Psikologi dalam istilah lama di sebut ilmu jiwa itu berasal dari kata Bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: (1) psyche yang berarti jiwa; (2) logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah Psikologi adalah ilmu jiwa atau bisa di sebut ilmu yang mempelajari kejiwaan.
Menurut pendapat Tatang Somantri, Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Menurut pendapat Gleitman (1986), Psikologi lebih banyak dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia. Dalam hubungan ini psikologi didefenisikan sebagi ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan.[2]
Menurut pendapat Bruno (1987), membagi pengertian psikologi kedalam tiga bagian yang pada perinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidupan mental”,  ketiga psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.
Selanjutnya, dalam Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap (1981) membatasi arti psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respons organisme dan hubungannya dengan lingkungan.
Menurut Crow & Crow, Pschycology is the study of human behavior and human relationship. Psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya.
Menurut Sartain, Psychology is the scientific study of the behavior of living organism,with especial attention given to human behavior. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia.
Menurut Richard Mayer (1981), Psikologi merupakan analisis mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia.[3]
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat tentang jiwa manusia. Menurut plato dalam buku Psikologi Umum oleh Kartini Kartono pada tahun 1996, psikologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa; logos = ilmu pengetahuan).
Jiwa secara harfiah berasal dari perkataan sansekerta JIV, yang berarti lembaga hidup (levensbeginsel), atau daya hidup (levenscracht). Oleh karena jiwa itu merupakan pengertian yang abstrak, tidak bisa dilihat dan belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderung mempelajari “jiwa yang memateri” atau gejala “jiwa yang meraga/menjasmani”, yaitu bentuk tingkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, psikologi butuh berabad-abad lamanya untuk memisahkan diri dari ilmu filsafat.
Perkataan tingkah laku/perbuatan mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berjalan, berlari-lari, berolah-raga, bergerak dan lain-lain, akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalan bentuk tangis, senyum dan lai-lain.
Kegiatan berpikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap penampilan dari kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan mendengarkan musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktifan, disebut dengan mati.
Pada pokoknya, psikologi itu menyibukkan diri dengan masalah kegiatan psikis, seperti berpikir, belajar, menanggapi, mencinta, membenci dan lain-lain. Macam-macam kegiatan psikis pada umumnya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu: 1) pengenalan atau kognisi, 2) perasaan atau emosi, 3) kemauan atau konasi, 4) gejala campuran.
Namun hendaknya jangan dilupakan, bahwa setiap aktivitas psikis/jiwani itu pada waktu yang sama juga merupakan aktifitas fisik/jasmani. Pada semua kegiatan jasmaniah kita, otak dan perasaan selalu ikut berperan; juga alat indera dan otot-otot ikut mengambil bagian didalamnya.[4]
Penyelidikan terhadap organ-organ manusia digolongkan dalam ilmu fisiologi. Yaitu meneliti peranan setiap organ dalam fungsi-fungsi kehidupan seperti meneliti segala sesuatu tentang mata, ketika subyek bisa melihat dan juga meneliti pengaruh kerja otak untuk mengkoordinir semua perbuatan individu guna menyesuaikan dengan lingkungnnya. Jika fungsi segenap organ dan tingkah laku banyak dijelaskan oleh fisiologi, maka masih perlukah bidang keilmuan psikologi?
Psikologi memberikan penjelasan macam-macam tingkah laku lahiriah yang menjasmani sifatnya. Sedang manusia merupakan suatu totalitas jasmaniah rokhani. Semua bentuk dorongan dan impuls dalam diri manusia yang menyebabkan timbulnya macam-macam aktifitas fisik dan psikis, dijelaskan oleh psikologi. Misalnya, jika seseorang menaruh rasa semangat yang tinggi , ketika ia mengahadapi suatu masalah tertentu maka ia akan menaggapi masalah itu dengan semangat untuk menyelesaikannya.[5]
Jadi, Psikologi atau ilmu jiwa ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku dan gejala-gejala kejiwaaan manusia.[6]

B.     Arti Manajemen
Kata manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikan kuda" yang berasal dari bahasa latin manus yang berati "tangan". Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti "kepemilikan kuda" (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.[7]
Dalam buku Manajemen Teori, Praktik, & Riset Pendidikan, kata  manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani.Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.[8]
Kata “manajemen” tampaknya sudah begitu sering kita dengar. Manajemen erat kaitannya dengan konsep organisasi.[9] Manajemen diperlukan ketika terdapat sekumpulan orang-orang (yang pada umumnya memiliki karakteristik perbedaan) dan sejumlah sumber daya yang harus dikelola agar tujuan sebuah organisasi dapat tercapai. Tujuan tersebut sangat beragam, tergantung dari jenis sebuah organisasi.[10] Menurut Tisnawati Sule, manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya.
Hakikat manajemen adalah merupakan proses pemberian bimbingan, pimpinan, pengaturan, pengendalian, dan pemberian fasilitas lainnya. Pengertian manajemen dapat disebut pembinaan, pengendalian pengelolaan, kepemimpinan, ketatalaksanaan yang merupakan proses kegairahan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.[11]
Bagi para manajer, pertanyaan yang paling penting adalah bukan bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, tetapi bagaimana menemukan pekerjaan yang benar utuk dilakukan, dan memusatkan sumber daya dan usaha pada pekerjaan tersebut.[12]
Fungsi-fungsi manajemen adalah seangkaian kegiatan yang dijalankan dalam manajemen berdasarkan fungsinya masing-masing dan mengikuti satu tahapan-tahapan tertentu dalam pelaksanaannya.[13]
Fungsi-fungsi manajemen sebagaimana diterangkan oleh Nickels. McHugh and McHugh (1997), terdiri dari empat fungsi, yaitu:
·           Perencanaan atau Planning, yaitu proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
·           Pengorganisasian atau Organizing, yaitu proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan bisa memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.
·           Pengimplementasian atau Directing, yaitu proses implementasi program agar bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.
·           Pengendalian dan Pengawasan atau Controlling, yaitu proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan.[14]
Stoner & Freeman (1996) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen ialahplanning, organizing, leading, dan controlling (POLC). Schermerhorn juga sependapat dengan Stoner & Freeman yang menyatakan fungsi manajemen ialah planning, organizing, leading, dan controlling (POLC).
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (1996) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen ialah kesadaran akan pengaruh luar; interpretasi; representasi; koordinasi; perencanaan; petunjuk; penganggaran; administrasi sumber daya material; manajemen kepegawaian; supervisi; pemantauan; dan evaluasi program.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.
Karakteristik keefektifan manajemen meliputi wawasan yang luas, wawasan strategis, peka lingkungan, kepemimpinan, fleksibilitas, orientasi tindakan, orientasi hasil, komunikasi, peka hubungan perseorangan, dan kemampuan teknis.[15]
Untuk lebih memperjelas pengertian manajemen akan dibicarakan topik-topik berikut ini:
1.        Manajemen sebagai ilmu dan seni
Luther Gulick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.
2.        Manajemen sebagai profesi
Manajemen telah berkembang menajdi bidang yang semakin profesional melalui perkembangan yang menyolok program- program latihan manajemendi universitas-universitas maupun lembaga-lembaga manajemen swasta, dan melalui pengembanganpara eksekutif oragnisasi (perusahaan).
3.        Pengertian-pengertian yang berbeda dengan istilah manajemen
Pengertian manajemen perlu dibedakan dengan pengertian istilah-istilah lain seperti kewiraswastaan (entrepreneurship) dan supervisi:
-        Manajemen berbeda dengan kewiraswastaan. Wiraswasta menurut definisi, memahami, mendapatkan sumber daya-sumber daya, mengorganisasikan dan menjalankan perusahaan. Manajemen sebaliknya, terlibat dalam pengorganisasian dan memimpin perusahaan dan organisasi lainnya, tetapi tidak mencakup pemilikan.
-        Manajemen berbeda dengan supervisi. Pada umumnya, supervisi adalah pengarahan dan pengendalian karyawan-karyawam tingkat bawah dalam suatu organisasi. Supervisi merupakan bagian dari manajemen.
4.        Aplikasi-aplikasi yang berbeda dari istilah manajemen
Istilah manajemen dapat digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan:
-          Pengelompokan pekerjaan. Manajemen dapat berarti suatu kelompok orang yang melaksanakan tugas-tugas atau fungsi-fungsi manajerial.
-          Seorang individu. Individu yang melaksanakan fungsi-fungsi manajerial atau bagian dari kelompok secara keseluruhan dapat disebut bagian manajemen.
-          Suatu disiplin akademik. Manajemen adalah suatu bidang spesialisasi akademik, atau suatu bidang studi.
-          Suatu proses. Manajemen juga merupakan suatu proses, karena mencakup pelaksanaan suatu rangkaian tipe-tipe khusus kegiatan atau fungsi.[16]
Jadi, Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

C.     Konsep Dasar Psikologi Manajemen
Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, dulu dalam manajemen, orang berproduksi hanya mengandalkan sumber daya alam. Misalnya, orang berburu, memancing atau memetik hasil hutan saja untuk memenuhi keperluannya. Tetapi lama-kelamaan mulai terasa bahwa dengan menambahkan sumber daya manusia (terutama akalnya), maka orang akan bisa lebih efektif dan efisien dalam berproduksi. Maka mulailah dikenal pertanian, peternakan dan upaya budi daya sumber-sumber alam lainnya.
Setelah itu, timbul lagi kebutuhan akan modal, karena dengan investasi dana tertentu, akan bisa dibuat alat tertentu untuk lebih meningkatkan lagi efisiensi dan efektivitas produksi. Maka sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Sumber Daya Uang) dan SDM (Sumber Daya Manusia), dan ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja itu.
Kaitannya dengan psikologi: dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM (Sumber Daya Manusia) ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu psikologi yang memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM (Sumber Daya Manusia) yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. 
Kegiatan intervensi (yang bertujuan untuk "mengolah" manusia) inilah yang menjadi titik tolak dari kajian ilmu psikologi manajemen. Hal ini bertujuan agar seluruh kayawan / SDM (Sumber Daya Manusia) dari suatu organisasi/perusahaan mengerti betul akan tugasnya, mampu memberikan informasi kepada pelanggan atau rekan sekerjanya, dan pada akhirnya membuat karyawan itu senang pada pekerjaan dan perusahaannya.[17]




D.     Manfaat Psikologi Manajemen
-            Untuk mendapatkan pemecahan bagi masalah-masalah yang penting berkenaan dengan penggunaan tenaga manusia di dalam proses manajemen.
-            Agar dunia manajemen mampu menggunakan prosedur-prosedur yang lebih relevan / tepat untuk memecahkan masalah-masalah human (kemanusiaan).[18]



Contoh Kasus :

a. Di Negara China terdapat salah satu pabrik yang telah memperbudak 11 orang pekerja yang memiliki cacat mental selama bertahun-tahun. Ke-11 orang itu bekerja dengan jam kerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan yang layak untuk binatang. Walaupun jam kerja mereka panjang, namun tidak seorang pun dari mereka diberikan upah yang sesuai dengan kerja kerasnya.

b. Di sebuah perusahaan rokok memiliki cara untuk memproduksikan produknya yaitu dengan membutuhkan spg (salles promotion girl), maka dalam pemilihan spg ini perusahaan tersebut akan mencari perempuan yang cantik dan berpenampilan menarik. Sedangkan apabila perempuan tersebut dinilai kurang cantik dan kurang menarik perhatian maka tidak akan diterima oleh perusahaan tersebut.

Pelanggaran yang terjadi :

a. Pelanggaran yang terjadi pada kasus di atas adalah adanya diskriminasi terhadap orang yang memiliki kecacatan mental. Sebaiknya hal ini tidak boleh terjadi karena sama saja melanggar Hak Asasi Manusia, karena walaupun mereka memiliki kekurangan tetapi mereka juga memiliki hak untuk hidup, mengeluarkan pendapat dan bekerja.


b. Pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan rokok tersebut adalah diskriminasi kepada perempuan. Mereka hanya mencari perempuan yang dapat menarik perhatian orang-orang di umum untuk dapat menjual produknya dengan banyak. Namun, sebenarnya tidak semua perempuan cantik bisa melakukan penjualan dengan baik. Adanya aturan yang dibuat oleh perusahaan ini sangat tidak selaras dengan UUD 1945 pada pasal 27 ayat 2 yang berbunyi bahwa "setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan." 

Kesimpulan :
Apakah penting psikologi management dalam kehidupan sehari hari?
Penting, untuk mendapatkan pemecahan bagi masalah-masalah yang penting berkenaan dengan penggunaan tenaga manusia di dalam proses manajemen, Agar dunia manajemen mampu menggunakan prosedur-prosedur yang lebih relevan / tepat untuk memecahkan masalah-masalah human (kemanusiaan).


Sumber :
[1]  Kartini Hartono, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan, dan Industri, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994), hlm 1
[2] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, & Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Edisi Kedua, hlm 4
[3] Erni Tisnawati Sule, dkk, Pengantar Manajemen, (Bandung: Kencana, 2004), Cetakan ke-4, hlm 4
[4] Erni Tisnawati Sule, dkk, Pengantar Manajemen, (Bandung: Kencana, 2004), Cetakan ke-4, hlm 5
[5] H. Abdurrahmat Fathoni, Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bandung: Rineka Cipta, 2006), hlm 5-6
[6] T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogtakarta: BPFE, 1999), Edisi 2, hlm 7
[7] Erni Tisnawati Sule, dkk, Pengantar Manajemen, (Bandung: Kencana, 2004), Cetakan ke-4, hlm 6-7
[8] Erni Tisnawati Sule, dkk, Pengantar Manajemen, (Bandung: Kencana, 2004), Cetakan ke-4, hlm 8
[9] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, & Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), Edisi Ketiga, hlm 47-48
[10] T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogtakarta: BPFE, 1999), Edisi 2, hlm 10-15
[11] Kartini Hartono, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan, dan Industri, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994), hlm 1
[12]http://internasional.kompas.com/read/2010/12/14/18190861/Pabrik.China.Perbudak.Orang.Cacat.Mental
[13] http://www.scribd.com/doc/218336845/Contoh-Kasus-Diskriminasi-Pekerjaan#scribd

Jumat, 29 April 2016

ALIRAN PSIKOANALISA





 













Anggota Kelompok : 

·         Alfred Deardo                                    (10514828)
·         Diajeng Asi Rosiana                           (12514968)
·         Fakar Nuansa Pekerti                        (13514906)
·         Farhan Alamsyah                               (13514949)
·         Kerry Sarafina Nadita                        (15514816)
·         Mohammad Imadudin Abduro           (16514796)
·         Nauval Muhammad Zikri Kush          (17514870)
·         Qhosim Nurshalhi                              (18514643)
·         Rafaela Putri E.                                  (18514732)
·         Reanne Adhitta Putri                          (18514976)
·         Ulfa Juniati                                         (1A514921)

Kelas : 2PA18

Kesehatan Mental Menurut Teori Psikoanalisa

Sigmund Freud merupakan salah satu tokoh psikoanalisis. Menurut Freud, kehidupan jiwa dibagi memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious) dan tak-sadar (unconscious). Bagi  Freud kehidupan mental dibagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar dibagi menjadi alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Dalam psikologi Freudian ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai prose maupun lokasi. Menurut Freud seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat apabila mampu menilai diri sendiri seecara realistik, mampu menilai situasi secara realistik, mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik, menerima tanggung jawab, kemandirian, dapat mengontrol emosi, berorientasi keluar(ektrovert), penerimaan sosial, berbahagia. Menurutnya mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.

Video : https://m.youtube.com/watch?v=9eIYdsFaMfk

Sabtu, 26 Maret 2016

SOFTSKILL : TUGAS I
 KESEHATAN MENTAL




NAMA : FAKKAR NUANSA PEKERTI
NPM : 13514906
KELAS : 2 PA 18










Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene. Mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti kejiwaan atau psikis, seperti juga kataPsyhe dalam bahasa Latin. Sehingga kesehatan mental diartikan sebagai sehat dari keluhan atau gangguan mental, baik berupa neurosis (gangguan syaraf) maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial). Kesehatan mental erat kaitannya dengan tuntunan masyarakat, masalah kehidupan, peran sosial dan caranya mencapai peran sosial tersebut.
Menurut pelopor gerakan kesehatan mental M.Jahoda, kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru. Memiliki penilaian nyata, baik tentang kehidupan maupun diri sendiri.
Dr. Jalaluddin dalam bukunya, Psikologi Agama, mengatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman, dan tenteram. Upaya mendapatkan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain dengan menyesuaikan diri secara resignasi(penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan).
Pada ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal seseorang. Perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Zakiah Daradjat mendefinisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri serta lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.
Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa orang yang sehat mental adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya.

World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.Dan memiliki 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.
Jadi Konsep Sehat merupakan suatu keadaan dimana seseorang duikatakan normal dan sesuai dengan kaidah dan standart yang di terima dalam suatu komunitas atau masyarakyat, dan mempunyai suatu keadaan dimanan fisik mental dan sosialnya tidak tergangu dan dapat melalukan peranya sebagai anggota dalm suatu komunitas atau masyarakat.
Sedangkan pengertian sehat menurut UU No. 23/1992 adalah  keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya seseorang di katakan sehat jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal dan sebagaimana mestinya. Jika salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan menjadi tidak sehat.

Sejarah mencatat bahwa di Zaman dahulu manusia mengasumsikan bahwa seseorang yang mengalami ganguan Mental atau tidak sehat itu disebabkan oleh suatu tindakan dari mahluk halus atau gaib yang merasuki dirinya dan pikirannya sehingga penderita tersebut harus di jauhi, diasingkan dan dirantai di suatu goa-goa atau penjara penjara bawah tanah. Namun karena semakin majunya perkembangan zaman dan manusia mulai beahli pada pemikiran yang ilmiah maka mereka pun mulai menyimpulkan pendapat yang lebih logis menganai penyakit mental.

Pada Zaman Pra Sejarah tercatat bahwa manusia purba mengalami ganguan seperti infeksi dan arttristis dan pada zaman permulaan masa peradaban Pytagoras ialah orang yang pertama memberi penjelasan terhadap penyakit mental diikuti Palato dan hypocrates yang berpendapat ganguan mental merupakan ganguan dilihat dari ciri ganguan fisik, moral dan ganguan dari para dewa, dan Zaman Renaisance mulai menyangkal bahwa ganguan penyakit mental itu pasiaennya itu tengelam dari dunia Takhyul atau alam gaib.

Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki banyak rumah sakit jiwa di Amerika dan Eropa.

Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi. Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.” Definisi dari Jahoda mengandung istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan dan keadaan diri sendiri.

Penyesuaiaan diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar  diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Ada 6 kriteria sehat jiwa:
1.     Sikap positif terhadap diri sendiri.
Hal ini terkait dengan tingkat harga diri individu. Untuk kesehatan mental yang ideal sikap positif harus pada tingkat yang baik, sehingga individu merasa senang dengan diri mereka sendiri.
2.     Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
Aktualisasi diri adalah dimana keadaan dalam rasa kepuasan, perasaan bahwa anda telah menjadi yang terbaik.


3.   Otonomi
Artinya adalah memiliki independensi dan kemandirian. kemampuan untuk berfungsi sebagai individu dan tidak tergantung pada orang lain.
4.     Ketahanan terhadap stres
Kriteria ini adalah bahwa seorang individu tidak perlu merasa di bawah tekanan dan mereka harus mampu menangani situasi stres kompeten.
5.     Penguasaan lingkungan
Memiliki penguasaan lingkungan berarti bahwa orang tersebut dapat beradaptasi dengan situasi baru dan merasa nyaman di semua situasi dalam hidup mereka.
6.     Persepsi yang akurat tentang realitas
Kriteria ini difokuskan pada bagaimana individu melihat dunia di sekitar mereka dan untuk mencapai kesehatan mental yang ideal mereka harus memiliki perspektif yang mirip dengan bagaimana cara orang lain melihat dunia. Ini sangat difokuskan pada distorsi berpikir bahwa beberapa orang, misalnya orang dengan skizofrenia, mungkin mengalami.
Jahoda menyatakan bahwa untuk kesehatan mental yang ideal yang ingin dicapai individu harus mengalami semua kriteria ini untuk kesehatan mental yang ideal optimal dan bahwa jika beberapa tidak dipenuhi orang tersebut akan mengalami kesulitan.



















Referensi :
Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma