Sabtu, 26 Maret 2016

SOFTSKILL : TUGAS I
 KESEHATAN MENTAL




NAMA : FAKKAR NUANSA PEKERTI
NPM : 13514906
KELAS : 2 PA 18










Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene. Mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti kejiwaan atau psikis, seperti juga kataPsyhe dalam bahasa Latin. Sehingga kesehatan mental diartikan sebagai sehat dari keluhan atau gangguan mental, baik berupa neurosis (gangguan syaraf) maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial). Kesehatan mental erat kaitannya dengan tuntunan masyarakat, masalah kehidupan, peran sosial dan caranya mencapai peran sosial tersebut.
Menurut pelopor gerakan kesehatan mental M.Jahoda, kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru. Memiliki penilaian nyata, baik tentang kehidupan maupun diri sendiri.
Dr. Jalaluddin dalam bukunya, Psikologi Agama, mengatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman, dan tenteram. Upaya mendapatkan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain dengan menyesuaikan diri secara resignasi(penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan).
Pada ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal seseorang. Perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Zakiah Daradjat mendefinisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri serta lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.
Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa orang yang sehat mental adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya.

World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.Dan memiliki 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.
Jadi Konsep Sehat merupakan suatu keadaan dimana seseorang duikatakan normal dan sesuai dengan kaidah dan standart yang di terima dalam suatu komunitas atau masyarakyat, dan mempunyai suatu keadaan dimanan fisik mental dan sosialnya tidak tergangu dan dapat melalukan peranya sebagai anggota dalm suatu komunitas atau masyarakat.
Sedangkan pengertian sehat menurut UU No. 23/1992 adalah  keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya seseorang di katakan sehat jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal dan sebagaimana mestinya. Jika salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan menjadi tidak sehat.

Sejarah mencatat bahwa di Zaman dahulu manusia mengasumsikan bahwa seseorang yang mengalami ganguan Mental atau tidak sehat itu disebabkan oleh suatu tindakan dari mahluk halus atau gaib yang merasuki dirinya dan pikirannya sehingga penderita tersebut harus di jauhi, diasingkan dan dirantai di suatu goa-goa atau penjara penjara bawah tanah. Namun karena semakin majunya perkembangan zaman dan manusia mulai beahli pada pemikiran yang ilmiah maka mereka pun mulai menyimpulkan pendapat yang lebih logis menganai penyakit mental.

Pada Zaman Pra Sejarah tercatat bahwa manusia purba mengalami ganguan seperti infeksi dan arttristis dan pada zaman permulaan masa peradaban Pytagoras ialah orang yang pertama memberi penjelasan terhadap penyakit mental diikuti Palato dan hypocrates yang berpendapat ganguan mental merupakan ganguan dilihat dari ciri ganguan fisik, moral dan ganguan dari para dewa, dan Zaman Renaisance mulai menyangkal bahwa ganguan penyakit mental itu pasiaennya itu tengelam dari dunia Takhyul atau alam gaib.

Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki banyak rumah sakit jiwa di Amerika dan Eropa.

Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi. Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.” Definisi dari Jahoda mengandung istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan dan keadaan diri sendiri.

Penyesuaiaan diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar  diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Ada 6 kriteria sehat jiwa:
1.     Sikap positif terhadap diri sendiri.
Hal ini terkait dengan tingkat harga diri individu. Untuk kesehatan mental yang ideal sikap positif harus pada tingkat yang baik, sehingga individu merasa senang dengan diri mereka sendiri.
2.     Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
Aktualisasi diri adalah dimana keadaan dalam rasa kepuasan, perasaan bahwa anda telah menjadi yang terbaik.


3.   Otonomi
Artinya adalah memiliki independensi dan kemandirian. kemampuan untuk berfungsi sebagai individu dan tidak tergantung pada orang lain.
4.     Ketahanan terhadap stres
Kriteria ini adalah bahwa seorang individu tidak perlu merasa di bawah tekanan dan mereka harus mampu menangani situasi stres kompeten.
5.     Penguasaan lingkungan
Memiliki penguasaan lingkungan berarti bahwa orang tersebut dapat beradaptasi dengan situasi baru dan merasa nyaman di semua situasi dalam hidup mereka.
6.     Persepsi yang akurat tentang realitas
Kriteria ini difokuskan pada bagaimana individu melihat dunia di sekitar mereka dan untuk mencapai kesehatan mental yang ideal mereka harus memiliki perspektif yang mirip dengan bagaimana cara orang lain melihat dunia. Ini sangat difokuskan pada distorsi berpikir bahwa beberapa orang, misalnya orang dengan skizofrenia, mungkin mengalami.
Jahoda menyatakan bahwa untuk kesehatan mental yang ideal yang ingin dicapai individu harus mengalami semua kriteria ini untuk kesehatan mental yang ideal optimal dan bahwa jika beberapa tidak dipenuhi orang tersebut akan mengalami kesulitan.



















Referensi :
Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma




Tidak ada komentar:

Posting Komentar