SOFTSKILL
: TUGAS I
KESEHATAN
MENTAL
NAMA
: FAKKAR NUANSA
PEKERTI
NPM : 13514906
KELAS : 2 PA 18
Istilah kesehatan mental diambil
dari konsep mental hygiene. Mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti
kejiwaan atau psikis, seperti juga kataPsyhe dalam bahasa Latin. Sehingga
kesehatan mental diartikan sebagai sehat dari keluhan atau gangguan mental,
baik berupa neurosis (gangguan syaraf) maupun psikosis (penyesuaian
diri terhadap lingkungan sosial). Kesehatan mental erat kaitannya dengan
tuntunan masyarakat, masalah kehidupan, peran sosial dan caranya mencapai peran
sosial tersebut.
Menurut pelopor gerakan kesehatan
mental M.Jahoda, kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan
dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah
dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi
baru. Memiliki penilaian nyata, baik tentang kehidupan maupun diri sendiri.
Dr. Jalaluddin dalam bukunya, Psikologi
Agama, mengatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi batin yang
senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman, dan tenteram. Upaya mendapatkan
ketenangan batin dapat dilakukan antara lain dengan menyesuaikan diri secara resignasi(penyerahan
diri sepenuhnya pada Tuhan).
Pada ilmu kedokteran, kesehatan
mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional yang optimal seseorang. Perkembangan itu berjalan
selaras dengan keadaan orang lain.
Zakiah Daradjat mendefinisikan
bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh
antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu
dengan dirinya sendiri serta lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan
serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.
Jika
mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi
positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung
jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku. Dari beberapa
definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa orang yang sehat mental
adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan
untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan
kepuasan dalam dirinya.
World
Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan
kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat
kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja
secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.Dan
memiliki 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan
sosial budaya.
Jadi Konsep Sehat merupakan
suatu keadaan dimana seseorang duikatakan normal dan sesuai dengan kaidah dan
standart yang di terima dalam suatu komunitas atau masyarakyat, dan mempunyai
suatu keadaan dimanan fisik mental dan sosialnya tidak tergangu dan dapat melalukan
peranya sebagai anggota dalm suatu komunitas atau masyarakat.
Sedangkan pengertian sehat menurut UU No. 23/1992
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya seseorang di katakan sehat
jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal dan sebagaimana
mestinya. Jika salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan
menjadi tidak sehat.
Sejarah mencatat bahwa di Zaman dahulu manusia
mengasumsikan bahwa seseorang yang mengalami ganguan Mental atau tidak sehat
itu disebabkan oleh suatu tindakan dari mahluk halus atau gaib yang merasuki
dirinya dan pikirannya sehingga penderita tersebut harus di jauhi, diasingkan
dan dirantai di suatu goa-goa atau penjara penjara bawah tanah. Namun karena
semakin majunya perkembangan zaman dan manusia mulai beahli pada pemikiran yang
ilmiah maka mereka pun mulai menyimpulkan pendapat yang lebih logis menganai
penyakit mental.
Pada Zaman Pra Sejarah tercatat bahwa manusia purba
mengalami ganguan seperti infeksi dan arttristis dan pada zaman permulaan masa
peradaban Pytagoras ialah orang yang pertama memberi penjelasan terhadap
penyakit mental diikuti Palato dan hypocrates yang berpendapat ganguan mental
merupakan ganguan dilihat dari ciri ganguan fisik, moral dan ganguan dari para
dewa, dan Zaman Renaisance mulai menyangkal bahwa ganguan penyakit mental itu
pasiaennya itu tengelam dari dunia Takhyul atau alam gaib.
Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang
mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu
mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah
salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi
orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini
selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan
praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana
tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan
mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam
usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan
memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki
banyak rumah sakit jiwa di Amerika dan Eropa.
Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara
formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari
jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia
dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement dia terkenal karena
pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental
dengan cara yang sangat manusiawi. Secara hukum, gerakan mental hygiene ini
mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika
Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program
jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga
masyarakat.
M.
Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan
mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi
seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi
dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika
berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang
kehidupan maupun keadaan diri sendiri.” Definisi dari Jahoda mengandung
istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu
penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan
dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan
diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah
rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar diri.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah
penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif
dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang
atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu
memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
1. Sikap
positif terhadap diri sendiri.
Hal
ini terkait dengan tingkat harga diri individu. Untuk kesehatan mental yang
ideal sikap positif harus pada tingkat yang baik, sehingga individu merasa
senang dengan diri mereka sendiri.
2. Tumbuh
kembang dan aktualisasi diri
Aktualisasi
diri adalah dimana keadaan dalam rasa kepuasan, perasaan bahwa anda telah
menjadi yang terbaik.
3. Otonomi
Artinya
adalah memiliki independensi dan kemandirian. kemampuan untuk berfungsi sebagai
individu dan tidak tergantung pada orang lain.
4.
Ketahanan terhadap stres
Kriteria
ini adalah bahwa seorang individu tidak perlu merasa di bawah tekanan dan
mereka harus mampu menangani situasi stres kompeten.
5.
Penguasaan lingkungan
Memiliki
penguasaan lingkungan berarti bahwa orang tersebut dapat beradaptasi dengan
situasi baru dan merasa nyaman di semua situasi dalam hidup mereka.
6.
Persepsi yang akurat tentang realitas
Kriteria
ini difokuskan pada bagaimana individu melihat dunia di sekitar mereka dan
untuk mencapai kesehatan mental yang ideal mereka harus memiliki perspektif
yang mirip dengan bagaimana cara orang lain melihat dunia. Ini sangat
difokuskan pada distorsi berpikir bahwa beberapa orang, misalnya orang dengan
skizofrenia, mungkin mengalami.
Jahoda
menyatakan bahwa untuk kesehatan mental yang ideal yang ingin dicapai individu
harus mengalami semua kriteria ini untuk kesehatan mental yang ideal optimal
dan bahwa jika beberapa tidak dipenuhi orang tersebut akan mengalami kesulitan.
Referensi
:
Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas
Gunadarma

Tidak ada komentar:
Posting Komentar