FAKKAR NUANSA PEKERTI (13514906)
3PA18
A.
PSIKOTERAPI
Pengertian Psikoterapi Psikoterapi
yang lahir pada abad pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara
etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang
artinya jelas, yaitu “mind” atau
sederhananya: jiwa dan “theraphy” dari Bahas Yunani yang berarti “merawat” atau
“mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah “perawatan terhadap
aspek kejiwaan” seseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychotheraphy” tidak tercantum,
tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang
diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan
teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan
melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan
psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan
kepribadian. sebagaimana diketahui, bahwa perawatan terhadap penderita seperti
tersebut ini, juga bisa dilakukan dengan pendekatan dari bidang Kedokteran,
antara lain farmasi dan farmakoterapi.
Tujuan
Psikoterapi
Tujuan psikoterapi secara khusus dari beberapa
metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua orang tokoh
yakni Ivey, et al (1987) dan Corey (1991).
1.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik
menurut Ivey, et al (1987) adalah: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi
sesuatu yang disadari. Rekonstrukai kepribadiannya dilakukan terhadap
kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari
konflik-konflik yang lama.
2.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis
menurut Corey (1991), dirumuskan sebagai: Membuat sesuatu yang tidak sadar
menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali
pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang
ditekan melalui pemahaman intelektual.
3.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat
pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah: Untuk memberikan jalan
terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya yang nyata
atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi
pertumbuhan dirinya yang unik.
4.
Corey (1991) merumuskan tujuan psikoterapi pada
pendekatan terpusat pada pribadi dengan: Untuk memberikan suasana aman, bebas,
agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal
yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya
yang sebelumnya. ditolak atau terhambat. Untuk memungkinkannya berkembang ke
arah keterbukaan, memperkuat kepercayaan diri, kemauan melakukan sesuatu dan
meningkatkan spontanitas dan kesegaran dalam hidupnya.
Pada akhirnya uraian mengenai tujuan psikoterapo
ini, ditutup dengan uraian mengenai terapi realitas dari kedua tokoh tersebut
diatas.
·
Ivey, et al (1987) merumuskan psikoterapi dengan
pendekatan terapi realitas sebagai: Untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa
dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab
dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.
·
Mengenai terapi realitas ini, Corey (1991)
merumuskanya dengan: Untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan
memeriksa seberapa jauh tindakannya berhasil.
Unsur-Unsur
Psikoterapi
Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter
pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi,
yaitu:
1.
Peran sosial (martabat)
2.
Hubungan (persekutuan terapeutik)
3.
Hak
4.
Retrospeksi
5.
Reduksi
6.
Rehabilitas, memperbaiki gangguan berat
7.
Resosialisasi
8.
Rekapitulasi
Perbedaan
antara Psikoterapi & Konseling
Perbedaan antara psikoterapi dan konseling
Psikoterapi secara fisik diterapkan terhadap penyakit klinis atau mental karena
sangat berlawanan dengan penyakit yang banyak terhadu du masyarakat.
Psikoterapi dilakukan oleh psikoterapis (yang berlawanan dengan konselor) yang
merupakan seorang terapos umum atau terapis yang berkualitas, Sedangkan
konseling dapat dilakukan oleh semua orang, mulai dari pemuka agama sampai
dengan konselor profesional. konseling bersifat jauh lebih praktis, setiap
hari, cenderung ke arah pemecahan masalah… berdasar pada masalah di sini dan
saat ini, sedangkan psikoterapi, membangkitkanide-ide yang berhubungan dengan
psikologi freudian yang mungkin menggunakan kerangka kerja yang sangat khusus.
Konseling merupakan sesuatu yabg lebih terfokus, lebih spesifik dan lebih
berorientasi pada situasi, dan psikoterapi sebagai suatu pandangan yang jauh
lebih global tentang kehidupan seseorang, berupaya membuat suatu perubahan yang
dapat memengaruhi seluruh kehidupan seseorang, atau berupaya membuat perubahan
dalam kepribadian. Psikoterapi merupakan suatu eksplorasi kehidupan seseorang
dengan tingkatan yang jauh lebih dalam meliputi membentuk daya titik
berdasarkan eksplorasi perkembangan awal, pengaruh orang tua dan hal-hal yang
dapat muncul pada konseling. Dalam konseling, mereka lebih dibawa untuk memahami
situasi tertentu daripada memahami diri klien sendiri.
Pendekatan
terhadap mental illnes
1. Pendekatan Psikoanalisis (Psikodinamika)
Membuat sesuatu tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien
menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat. Tujuanya adalah
agar klien menyadari apa yang sebelumnya tidak disadari.
2. Terapi Behavioral
Manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan
sebab-akibat atau aksi-reaksi) Dalam hal ini berkaitan dengan classical conditioning
(Ivan Pavlov) yang menggunakan anjing sebagai percobaanya,ketika anjing menekan
bel, muncul makanan dari air liur. Selain itu juga operant conditioning
(B.F.Skinner) yang menggunakan tikus sebagai percobaanya.
3. Teori Humanistik
Sebuah penekanan umum terhadap perilaku manusia yag menekankan pada keunikan,
harga diri, dan nilai tujuan pribadi. Terapi humanistik adalah terapi yang
dimaksudkan untuk menangani manusia secara menyeluruh.
4. Terapi Kognitif
Pikiran manusia dipengaruhi oleh pikiranya. Terapi ini lebih fokus pada
modifikasi pola pikiran untuk merubah perilaku. Tujuan terapi ini adalah
mengubah pola pikiran dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional
5. Teori Holistik
Memilih berbagai teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu,
ketimbang mengikuti dengan satu teknik tunggal. Selain itu terapi ini merupakan
suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang
secara keseluruhan.
B.
TERAPI PSIKOANALISIS
Konsep
Dasar Teori Psikoanalisis Tentang Kepribadian
KEPRIBADIAN:
Kesadaran dan ketaksadaran
Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti
gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air,
bagian jiwa yang terbesar berada dibawah permukaan kesadaran. Ketaksadaran
menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan, dan bahan-bahan yang di represi.
Freud percaya, bahwa sebagian besar fungsi psikologis berada di luar kesadaran.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari,
karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa
melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap
mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan
tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk
menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi
yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga
yaitu:
a)
Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika
dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak
bisa mentoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera
mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas
kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b)
Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang
memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi
pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran
dan melaksanakan sensor. Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta
merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c)
Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian,
kode moral bagi individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik
atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang
real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego
berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme-mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan
mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego tidak selalu
patologis dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya
hidup. Berikut ini beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego :
a. Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap
keberadaan kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan
yang membangkitkan kecemasan.
b. Proyeksi
Proyeksi adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima
oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang
tidak disukai dan ia tiak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri.
c. Fiksasi
Fiksasi adalah menjadi “terpaku’ pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal
karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menyebabkan kecemasan.
d. Regresi
Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang
tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” untuk menghndari ego
dari cedera atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi
tidak begitu menyakitkan.
f. Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara
sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displacement
Displacement adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila
objek asal atau orang yang sebenarnya, tidak bisa dijangkau.
h. Represi
Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan
kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketidak sadaran,
atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah
satu konsep Freud yang paling penting.
i. Formasi reaksi
Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan keinginan tak
sadar. Jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka
seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan untuk menyangkal
perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman.
Perkembangan Psikoseksual
Sumbangan yang berarti dalam model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap
perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa.
– Tahun pertama kehidupan : Fase Oral
Dari lahir sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral.
Mengisap buah dada ibu memuaskan kebutuhan akan makanan dan akan kesenangan
karena mulut dan bibir merupakan zona erogen yang peka selama fase oral.
Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, yaitu
percaya kepada orang lain, dunia, dan diri sendiri.
– Usia satu sampai tiga tahun : Fase Anal
Tugas yang harus diselesaikan ada fase ini adalah belajar mandiri, memiliki
kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani
perasaan-perasaan yang negatif. Selama fase anal, anak dipastikan akan
mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dsb.
– Usia tiga sampai lima tahun : Fase Falik
Selama fase falik, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian
dipusatkan pada alat-alat kelamin yaitu penis pada anak laki-laki dan klitoris
pad anak perempuan. Pada fase falik, masturbasi meningkat frekuensinya.
Anak-anak menjadi lebih ingin tau tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk
mengekplorasi tubuh sendiri dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan diantar
kedua jenis kelamin.
Unsur
– Unsur Terapi
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan
terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual
dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses
terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa
anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran
merekonstruksi kepribadian.
Fungsi dan Peran Terapis
Karakteristik
psikoanalisi adalah terapi atau analis membiarkan dirinya anonim sera hanya
berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya
kepada analis. Analis berusaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri,
kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani
kecemasan serta secara realistis. Yang dilakukan klien sebagian besar adalah
berbicara, yang dilakukan oleh analis adalah mendengarkan dan berusaha untuk
mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran yang layak untuk mempercepat
proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.
Teknik
– Teknik Terapi
–
Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama terapi psikoanalitik. Analis meminta
kepada klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan
sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam
pikirannya. Dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut
bersama segala perasaan dan pikirannya. Cara yang khas adalah klien berbaring
diatas balai-balai sementara analisi duduk dibelakangnya sehingga tidak
mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi nya mengalir bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman
masa lalu dan melepas emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi
traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan katarsis.
–
Analisis Transferensi
Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Transferensi dalam
proses terapeutik ketika “urusan yang tidak selesai” dimasa lalu klien dengan
orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang.
Analisis trasferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab
mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia
memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan
deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap
kehidupannya sekarang. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa
dini yang tidak diinginkan dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional
yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
– Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien
mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi sebagai
dinamika terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan mengingat jika
klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan yang direpresi itu.
Resistensi bekerja dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha
bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran klien.
– Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang
tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah
yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah dan perasaa yang
direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi sebagai “jalan istimewa
menju ketidaksadaran” karena melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan
yang tidak disadari diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf isi yaitu isi laten
dan isi manifes.
C.
TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan
perhatian pada proses-proses tak eksistensial memusatkan perhatian pada
pengalaman-pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistic eksistensial juga lebih
memusatkan pada apa yang dialami pasien pada masa-masa sekarang “di sini dan
kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan antara terapi-terapi
humanistuk eksistensial, yakni keduanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa
dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan
perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas
pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.
Teori konseling eksistensial-humanistik menekankan
renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli
psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang
pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.
Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari
kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam
penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian
pada filosofis yang melandasiterapi. Pendekatan atau teori
eksistensian-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang
berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan
menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha
membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut
keberadaan manusia.
Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan
pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya
yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses
pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi
potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta
utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.
Konsep
Dasar Teori Humanis Eksistensial Tentang Kepribadian
Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada
diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada
pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam konseling
menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli.
Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal,
melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang
kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasan bagi
praktek konseling, yaitu:
a) Kesadaran Diri,
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan
yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan
yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni
memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang
esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung
jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan
nasibnya.
b) Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan.
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang
menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas
keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati
(nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan
individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada
kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan
potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia.
Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar benar menjadi sesuatu sesuai
dengan kemampuannya.
c) Penciptaan Makna.
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan
menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi
manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati
sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan
untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab
manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang
bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi,
kerasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni
mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak
mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.
Unsur-unsur
Terapi
a)
Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami
keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan
potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak
berdasarkan kemampuannya.
Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan
kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni
menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien
agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan
menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan
deterministik di luar dirinya.
b)
Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien
sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi
humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada pertumbuhan.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang
menyeluruh.
Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan
klien.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan
pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada
klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan
tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
Teknik-Teknik
Terapi
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial
adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa
sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi
hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari
situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial
menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja
dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang
berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti
desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis
konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin
mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat
teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983).
Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena
mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah
nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa
secara efektif menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
eksistensial-humanistik, yaitu:
Penerimaan
Rasa hormat
Memahami
Menentramkan
Memberi dorongan
Pertanyaan terbatas
Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
D.
PERSON CENTERED THERAPY (ROGERS)
Konsep
Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku / Kepribadian
Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan
Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru
terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali
menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous
pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers
yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui
pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk
sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling
menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi
terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya
tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri
tersebut.
Konsep Carl Rogers tentang kepribadian
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam
penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki
arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
1. Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu.
Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita
merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis.
Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku
orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total
lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu –
satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2. Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya
adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial
realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi
kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa
orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita
baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk
dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk
rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu
orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai
merubah perasaan dan merubah persepsi.
3. Organisme Bereaksi sebagai
Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus
menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam
psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting
bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di
klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri
untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya
lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4. Organisme mengaktualisasi
kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan
dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan
Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak
dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan
keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas
dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat
daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum
untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5. Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara
dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan
perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal
memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang
mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku,
sikap, dan kepribadian.
6. Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir
konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan
persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai
aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini.
Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7. Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar.
Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan
konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung
menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di
lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara
kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang
yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan
tertarik.
8. Penyesuaian Psikologis &
Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya
konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep
diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi
simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi
pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian
psikologis.
9. Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana
individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat
penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di
tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya
benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10. The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada
Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami
semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di
dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.
Unsur
– Unsur Terapi
1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik,
berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik –
teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan
bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan
bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis
menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka
menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga
menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan
merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah
dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan
mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya
fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh
memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien.
Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan
bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan
perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan
dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya
yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan
kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa
memberi penilaian.
Teknik
– Teknik Terapi
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan
terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga
kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive Regard (acceptance)
3. Congruence
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan
bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka.
Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau
mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa
empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan
sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan
pembelajaran.
Positive Regard yang di kenal juga sebagai
akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi –
sangat menghargai klien karena keberadaannya.
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan
dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.
Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif
dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.
Sumber
:
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Morrison, Paul & Burnard, Philip.(1997) .Caring & Communication: the
interpersonal relationship in nursing. New York: Palgrave.
Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Semiun, Yustinus 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: PT Kanisius
Corey, Gerald. 2006. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika
Aditama
Syamsu, Yusuf. Juntika, Nurihsan. Teori
Kepribadian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
E, Koswara. Teori dan Praktek Konseling
dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama
Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.