Minggu, 08 November 2015

Dunia Maya dan Dunia Nyata menyangkut Ekonomi

“The old economy with the new technology”

Terlepas dari benar  tidaknya adanya paradigma tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi fenomena yang menarik karena adanya suatu arena baru di internet yang kerap dinamakan sebagai dunia maya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Dunia maya merupakan suatu tempat bertemu dan berkumpulnya berbagai individu, kelompok masyarakat, perusahaan, konsumen, organisasi, komunitas, dan berbagai jenis entiti lainnya di “sebuah tempat” yang terbentuk karena adanya berbagai jaringan komputer yang saling dihubungkan satu dengan yang lainnya. Untuk dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi di dalam dunia maya, seseorang biasanya membutuhkan sebuah peralatan dan kanal akses ke internet, seperti misalnya: Komputer Personal (PC), Personal Digital Assistant (PDA), Web-TV, ataupun SMARTPHONE dan lain sebagainya. Bertemunya berbagai jenis orang ini seperti halnya di dunia nyata tentu saja mendatangkan banyak sekali jenis interaksi semacam jual-beli (perdagangan). Diskusi, kooperasi, dan lain-lain. Kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan oleh dunia maya adalah suatu bentuk interaksi yang sangat efisien (lebih cepat, lebih murah dan lebih baik dibandingkan dengan dunia nyata) karena kemampuannya untuk meniadakan ruang dan waktu. Namun ada satu persamaan mendasar yang berlaku baik di dunia nyata maupun dunia maya, yaitu tetap berlakunya hukum ekonomi, yaitu “suatu aktivitas untuk mencapai penghasilan sebesar-besarnya dengan perngorbanan yang sekecil-kecilnya”, karena hal tersebut tidak jauh dari prinsip hidup dari seorang manusia.
Lalu apa yang membedakannya?
Menarik bukan!?
Kasarnya, teknologi juga termasuk salah satu sarana untuk mencari dan mengembangkan ekonomi karena dalam  teknologi kita telah menemukan sebuah kehidupan palsu tapi nyata itulah sedikit pandangan saya tentang dunia maya.
Dengan demikian saya akan  mengambil momentum  melalui sebuah  perusahaan transportasi digital yang layaknya perusahaan teknologi berbasis internet
Seiring dengan kemajuannya teknologi di tengah-tengah kita, tentu membuat aktivitas kita menjadi jauh lebih mudah. Jarak yang jauh pun tidak lagi menjadi halangan dalam  melakukan komunikasi, kini kekhawatiran akan bertransportasi bisa diatasi dengan mudah melalui teknologi.

®   Paradigma Transportasi Digital Dalam Dunia Maya

Melalui kesulitan dan kemudahan pendaftaran transportasi digital kita bisa mengetahui bagaimana sudut pandang masyarakat dalam dunia nyata dan dunia maya tentang transportasi digital

·        Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari Perspektif Demand And Supply
Makin lama makin banyak saja para peminat yang ingin mendaftarkan diri menjadi pengemudi Go-Jek. Rekan kerja saya yang pernah iseng mendaftar Gojek mengatakan begitu banyak orang yang mendaftar, dengan jumlahnya mencapai ribuan, dengan suasana lebih menyerupai bursa kerja. Itu baru dari sisi pengemudi Go-jek. Dari sisi bisnisnya, pasar tukang ojek “digital” ini memang belum padat, karena baru disaingi oleh Grab Bike. Namun adanya rencana Blue Bird meluncurkan Blue-Jek, menandakan bahwa pangsa pasar ini semakin terlihat “sexy” untuk diraup. Permasalahannya, adalah seberapa luas pasar yang ada untuk nantinya ketiga “tukang ojek digital” ini untuk bersaing mencari acuan?
Pertanyaan ini patut mengemuka, dengan latar belakang pertanyaan yang diajukan sebelumnya oleh rekan kerja saya yang iseng mendaftar Go-Jek tersebut. Jika yang mendaftar Go-Jek banyak, nanti siapa yang mau jadi penumpang? Pertanyaan yang diajukan oleh rekan kerja saya itu patut untuk dicermati dan dianalisa. Kebetulan, hari ini saya menggunakan jasa pengemudi Go-Jek dan dari penuturan bang Somat (sebut saja namanya demikian), ia bisa melayani 10 orang dalam 1 hari.
Mari kita analisa dengan data-data yang saya dapat dapat dari berbagai pemberitaan di media massa, dan penuturan bang Somat.
Jumlah pengemudi Gojek hingga kini diprediksi 20.000 pengemudi di 4 kota. Jika diasumsikan penetrasi Gojek di Jakarta lebih besar dari 50 persen saja, maka asumsi jumlah pengemudi Gojek di Jakarta mencapai 11.000 sampai 12.000 pengemudi. Jumlah order Gojek mencapai 1 juta order, dengan asumsi sederhana order di Jakarta mencapai 900 ribu order. Aplikasi Gojek ada sejak awal tahun 2015. Sedangkan jumlah pengemudi Grab Bike mencapai 11.000 dengan jumlah order mencapai 500 ribu sejak diluncurkan pada bulan Mei 2015.

                              

Dari data-data tersebut jika memang benar jumlah pengemudi Gojek di Jakarta saja adalah 12.000 dengan jumlah order mencapai 900.000 dari awal aplikasi ini diluncurkan maka rata-rata pemesanan per bulan adalah 112.500, maka pernyataan Bang Somat yang mengatakan setiap hari ia bisa melayani 10 orang agak-agak mendekati benar.
Namun jika kita melihat Gojek dan Grab Bike ini dari perspektif permintaan dan penawaran, akan ada titik keseimbangan yang akan terjadi kedepannya. Karena saat ini memang jumlah permintaan terhadap jasa ojek masih tinggi. Namun jika kenaikan permintaan itu tidak bisa mengimbangi kenaikan supply karena kenaikan jumlah pengemudi Go-Jek dan Grab Bike lebih tinggi dari kebutuhan, maka akan ada kemungkinan kedepan penghasilan para pengemudi Gojek dan Grab Bike menyesuaikan ke titik normal yang seharusnya.
Tapi melihat keinginan Blue Bird untuk masuk ke pasar ini, dengan segala perhitungan matang yang mungkin telah dilakukan, maka ada kemungkinan pangsa pasarnya memang masih menganga lebar. Artinya penyesuaian ke titik normal, mungkin masih agak jauh. Ditambah lagi, dengan adanya promosi yang semakin intensif, diharapkan dapat membentuk prilaku konsumen untuk berpaling dari menggunakan moda transportasi lain (pribadi atau umum) menjadi menggunakan Go-Jek. Faktor penghambat dari sisi regulasi mungkin saja akan berbenturan dengan faktor kebutuhan masyarakat yang diakomodir oleh Go-jek dan Grab Bike. Menarik untuk dilihat bagaimana kedepannya masa depan dari Gojek, Grab Bike ataupun Blue-Jek.
v  Dengan demikian peluang menjadi karyawan transportasi digital terus terbuka untuk masyarakat, terlebih adanya prediksi yang mengatakan bahwa akan bermunculan beberapa perusahaan yang bergerak dibidang yang sama seperti yang dijelaskan diatas.




®   Paradigma Transportasi Digital Dalam Dunia Nyata

·         Pendaftar gojek keluhkan sulitnya pendaftaran melalui pesan singkat
Banyak pendaftar yang mengeluh lamanya pesan balasan dari pengelola untuk melanjutkan proses pendaftaran. Seperti teman saya di tanggerang selatan yang kesehariannya mengerjakan apapun asalkan mendapatkan uang seperti menjual bakso, menjadi tukang galon, ataupun belajar menjadi montir, Mardi 26 tahun laki-laki ini mengaku bahwa dia telah mendaftar di perusahaan transportasi digital melalui pesan singkat namun tidak pernah ada balasan dari pihak pengelola perusahaan penyedia aplikasi angkutan umum  roda tersebut.
“Gue udah sms kar, setiap hari itu gue pasti sms, berharap dibales sih tp gak pernah dibales makanya gue kirim sms setiap hari” ujar Mardi kepada saya.
Ternyata setelah saya cari tau kebenarannya ada beberapa kesalahan kecil yang masyarakat awam tidak mengetahuinya, seperti misalnya tidak sesuai pada format yang ditetapkan perusahaan transportasi digital tersebut. Dan adanya kerusakan sistem yg disebabkan pendaftar transportasi digital mengirimkan pesan singkat (sms) berkali-kali yang tidak sesuai format.

                     
Antrean pelamar pengendara Go-Jek di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis(13/8/2015). 



v  Dengan demikian dapat diambil kesimpulan dalam dunia nyata bahwa banyak para pelamar yang kesulitan untuk mencapai target untuk menjadi karyawan transportasi digital





Referensi :

- Eko Indrajit, Richardus (2001) Ekonomi Digital Di Dunia Maya
- Tribun News
- Roji Hasan, Fakhrur (2015) Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari Perspektif Demand And Supply 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar