“The
old economy with the new technology”
Terlepas dari
benar tidaknya adanya paradigma
tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi fenomena yang menarik
karena adanya suatu arena baru di internet yang kerap dinamakan sebagai dunia
maya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Dunia maya merupakan
suatu tempat bertemu dan berkumpulnya berbagai individu, kelompok masyarakat,
perusahaan, konsumen, organisasi, komunitas, dan berbagai jenis entiti lainnya
di “sebuah tempat” yang terbentuk karena adanya berbagai jaringan komputer yang
saling dihubungkan satu dengan yang lainnya. Untuk dapat saling berkomunikasi
dan berinteraksi di dalam dunia maya, seseorang biasanya membutuhkan sebuah
peralatan dan kanal akses ke internet, seperti misalnya: Komputer Personal (PC),
Personal Digital Assistant (PDA), Web-TV, ataupun SMARTPHONE dan lain
sebagainya. Bertemunya berbagai jenis orang ini seperti halnya di dunia nyata
tentu saja mendatangkan banyak sekali jenis interaksi semacam jual-beli
(perdagangan). Diskusi, kooperasi, dan lain-lain. Kemudahan dan fasilitas yang
ditawarkan oleh dunia maya adalah suatu bentuk interaksi yang sangat efisien
(lebih cepat, lebih murah dan lebih baik dibandingkan dengan dunia nyata)
karena kemampuannya untuk meniadakan ruang dan waktu. Namun ada satu persamaan
mendasar yang berlaku baik di dunia nyata maupun dunia maya, yaitu tetap
berlakunya hukum ekonomi, yaitu “suatu aktivitas untuk mencapai penghasilan
sebesar-besarnya dengan perngorbanan yang sekecil-kecilnya”, karena hal
tersebut tidak jauh dari prinsip hidup dari seorang manusia.
Lalu apa yang
membedakannya?
Menarik bukan!?
Kasarnya, teknologi
juga termasuk salah satu sarana untuk mencari dan mengembangkan ekonomi karena
dalam teknologi kita telah menemukan
sebuah kehidupan palsu tapi nyata itulah sedikit pandangan saya tentang dunia
maya.
Dengan demikian saya
akan mengambil momentum melalui sebuah perusahaan transportasi digital yang layaknya
perusahaan teknologi berbasis internet
Seiring dengan kemajuannya teknologi di tengah-tengah
kita, tentu membuat aktivitas kita menjadi jauh lebih mudah. Jarak yang jauh
pun tidak lagi menjadi halangan dalam melakukan komunikasi, kini kekhawatiran akan
bertransportasi bisa diatasi dengan mudah melalui teknologi.
® Paradigma Transportasi Digital Dalam Dunia
Maya
Melalui kesulitan dan kemudahan pendaftaran
transportasi digital kita bisa mengetahui bagaimana sudut pandang masyarakat
dalam dunia nyata dan dunia maya tentang transportasi digital
·
Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari
Perspektif Demand And Supply
Makin lama makin banyak saja para peminat yang ingin
mendaftarkan diri menjadi pengemudi Go-Jek. Rekan kerja saya yang pernah iseng
mendaftar Gojek mengatakan begitu banyak orang yang mendaftar, dengan jumlahnya
mencapai ribuan, dengan suasana lebih menyerupai bursa kerja. Itu baru dari
sisi pengemudi Go-jek. Dari sisi bisnisnya, pasar tukang ojek “digital” ini
memang belum padat, karena baru disaingi oleh Grab Bike. Namun adanya rencana Blue Bird meluncurkan Blue-Jek,
menandakan bahwa pangsa pasar ini semakin terlihat “sexy” untuk diraup.
Permasalahannya, adalah seberapa luas pasar yang ada untuk nantinya ketiga
“tukang ojek digital” ini untuk bersaing mencari acuan?
Pertanyaan ini patut mengemuka, dengan latar belakang
pertanyaan yang diajukan sebelumnya oleh rekan kerja saya yang iseng mendaftar
Go-Jek tersebut. Jika yang mendaftar Go-Jek banyak, nanti siapa yang mau jadi
penumpang? Pertanyaan yang diajukan oleh rekan kerja saya itu patut untuk
dicermati dan dianalisa. Kebetulan, hari ini saya menggunakan jasa pengemudi
Go-Jek dan dari penuturan bang Somat (sebut saja namanya demikian), ia bisa
melayani 10 orang dalam 1 hari.
Mari kita analisa dengan data-data yang saya dapat
dapat dari berbagai pemberitaan di media massa, dan penuturan bang Somat.
Jumlah pengemudi
Gojek hingga kini diprediksi 20.000 pengemudi di 4 kota. Jika diasumsikan
penetrasi Gojek di Jakarta lebih besar dari 50 persen saja, maka asumsi jumlah
pengemudi Gojek di Jakarta mencapai 11.000 sampai 12.000 pengemudi. Jumlah
order Gojek mencapai 1 juta order, dengan asumsi sederhana order di Jakarta
mencapai 900 ribu order. Aplikasi Gojek ada sejak awal tahun 2015. Sedangkan
jumlah pengemudi Grab Bike mencapai 11.000 dengan jumlah order mencapai 500
ribu sejak diluncurkan pada bulan Mei 2015.
Dari data-data tersebut jika memang benar jumlah
pengemudi Gojek di Jakarta saja adalah 12.000 dengan jumlah order mencapai
900.000 dari awal aplikasi ini diluncurkan maka rata-rata pemesanan per bulan
adalah 112.500, maka pernyataan Bang Somat yang mengatakan setiap hari ia bisa
melayani 10 orang agak-agak mendekati benar.
Namun jika kita melihat Gojek dan Grab Bike ini dari
perspektif permintaan dan penawaran, akan ada titik keseimbangan yang akan
terjadi kedepannya. Karena saat ini memang jumlah permintaan terhadap jasa ojek
masih tinggi. Namun jika kenaikan permintaan itu tidak bisa mengimbangi
kenaikan supply karena kenaikan jumlah pengemudi Go-Jek dan Grab Bike lebih
tinggi dari kebutuhan, maka akan ada kemungkinan kedepan penghasilan para
pengemudi Gojek dan Grab Bike menyesuaikan ke titik normal yang seharusnya.
Tapi melihat keinginan Blue Bird untuk masuk ke
pasar ini, dengan segala perhitungan matang yang mungkin telah dilakukan, maka
ada kemungkinan pangsa pasarnya memang masih menganga lebar. Artinya
penyesuaian ke titik normal, mungkin masih agak jauh. Ditambah lagi, dengan
adanya promosi yang semakin intensif, diharapkan dapat membentuk prilaku
konsumen untuk berpaling dari menggunakan moda transportasi lain (pribadi atau
umum) menjadi menggunakan Go-Jek. Faktor penghambat dari sisi regulasi mungkin
saja akan berbenturan dengan faktor kebutuhan masyarakat yang diakomodir oleh
Go-jek dan Grab Bike. Menarik untuk dilihat bagaimana kedepannya masa depan
dari Gojek, Grab Bike ataupun Blue-Jek.
v Dengan demikian peluang menjadi karyawan
transportasi digital terus terbuka untuk masyarakat, terlebih adanya prediksi
yang mengatakan bahwa akan bermunculan beberapa perusahaan yang bergerak
dibidang yang sama seperti yang dijelaskan diatas.
® Paradigma Transportasi Digital Dalam Dunia
Nyata
·
Pendaftar gojek keluhkan sulitnya
pendaftaran melalui pesan singkat
Banyak pendaftar yang mengeluh lamanya pesan balasan
dari pengelola untuk melanjutkan proses pendaftaran. Seperti teman saya di
tanggerang selatan yang kesehariannya mengerjakan apapun asalkan mendapatkan
uang seperti menjual bakso, menjadi tukang galon, ataupun belajar menjadi
montir, Mardi 26 tahun laki-laki ini mengaku bahwa dia telah mendaftar di
perusahaan transportasi digital melalui pesan singkat namun tidak pernah ada
balasan dari pihak pengelola perusahaan penyedia aplikasi angkutan umum roda tersebut.
“Gue udah sms kar, setiap hari itu gue pasti sms,
berharap dibales sih tp gak pernah dibales makanya gue kirim sms setiap hari”
ujar Mardi kepada saya.
Ternyata setelah saya cari tau kebenarannya ada
beberapa kesalahan kecil yang masyarakat awam tidak mengetahuinya, seperti
misalnya tidak sesuai pada format yang ditetapkan perusahaan transportasi
digital tersebut. Dan adanya kerusakan sistem yg disebabkan pendaftar
transportasi digital mengirimkan pesan singkat (sms) berkali-kali yang tidak
sesuai format.
Antrean pelamar pengendara Go-Jek di Hall Basket
Senayan, Jakarta, Kamis(13/8/2015).
v Dengan
demikian dapat diambil kesimpulan dalam dunia nyata bahwa banyak para pelamar
yang kesulitan untuk mencapai target untuk menjadi karyawan transportasi
digital
Referensi :
- Eko Indrajit, Richardus (2001) Ekonomi Digital Di Dunia Maya
- Tribun News
- Roji Hasan, Fakhrur (2015) Melihat Go-Jek dan Grab Bike Dari Perspektif Demand
And Supply


Tidak ada komentar:
Posting Komentar