Rabu, 18 Maret 2015

Anak laki-laki lebih kreatif daripada anak perempuan

Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak.
-          Benarkah demikian?
-          Mengapa?


Perbedaan otak laki-laki dengan otak perempuan yang membuat pola berpikir berbeda. Cara kerja otak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Jika otak kiri lebih berperan dalam cara berpikir perempuan, laki-laki justru lebih mengandalkan otak kanan.
Hormon juga berpengaruh dalam perkembangan otak kiri dan kanan. Kapasitas kemampuan ruang di otak kanan laki-laki lebih besar dibanding perempuan karena produksi hormon testosteron.  Hormon ini juga membuat laki-laki lebih tegap secara fisik
“Hormon testosteron menghalangi pertumbuhan otak kiri laki-laki (otak kiri dipakai untuk komunikasi lisan dan verbal). Jadinya pada laki-laki, otak kanan lebih besar perkembangannya dan kemampuan yang lebih dominan.
Berdasarkan teori ini, terbukti bahwa laki-laki lebih kreatif contohnya : mengutak-atik alat elektronik, kendaraan, bahkan lebih kreatif dalam merancang bangunan dibanding perempuan. Kebalikannya karena pola pikir perempuan lebih didominasi otak kiri, perempuan cenderung lebih cerewet dibanding laki-laki.

Artikel produk kreatif yang sedang populer beserta tanggapan dan kesimpulannya

"Tongsis" Masuk 25 Penemuan Terbaik 2014

KOMPAS.com — Bersama dengan menyebarnya fenomena selfie alias potret diri dengan memakai smartphone, penggunaan tongkat narsis ("tongsis") pun semakin menjamur. Sampai-sampai, majalah Time memasukkan alat yang di Barat disebut sebagai selfie stick ini dalam daftar 25 penemuan terbaik sepanjang 2014.  Tongsis masuk daftar tersebut bersama dengan aneka penemuan lainnya, mulai dari mobil listrik, reaktor fisi nuklir, hingga filter virus ebola.
Menurut Time, sebagaimana dikutip Kompas Tekno, Senin (24/11/2014), tongsis yang berbentuk tongkat panjang dengan alat penggenggam smartphone di ujungnya itu menawarkan nilai lebih untuk para pengguna gadget.
"Selfie stick (yang diproduksi oleh banyak merek) memungkinkan pengguna memosisikan smartphone lebih jauh dari rentang tangan sehingga mendapat angle yang lebih baik," tulis Time, mengutip ucapan analis Gartner, Van Baker.

Tanggapan Fakkar tentang Artikel :
“Selfie stick / Tongsis (tongkat narsis) tentu diciptakan manusia karena kreativitasnya menyambut dunia modern khususnya di bidang elektronik. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman menjadikan manusia semakin pintar terlebih dalam kreativitasnya untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada (inovatif),

Kesimpulan :

Setiap manusia memiliki daya keterampilan dan kreativitasnya karena berpikir merupakan pekerjaan otak, hanya saja setiap individu banyak yang tidak mengetahui bakat terselubung yang ada di dalam dirinya, melalui kreativitas kita akan mengetahui apa bakat terselubung yang ada dalam diri kita.


SUMBER: http://tekno.kompas.com/read/2014/11/24/16160077/.Tongsis.Masuk.25.Penemuan.Terbaik.2014

KONSEP KREATIVITAS, OPERASIONAL KREATIVITAS, TEORI-TEORI KREATIVITAS

A.    Konsep Kreativitas
Kreativitas didefinisikan tergantung dari orang memandangnya. Hal ini karena dua alasan, pertama karena kreativitas “konstruk hipotetis” dan yang kedua definisi kreativitas tergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi. Berdasarkan penekanannya definisi kreativitas dibedakan ke dalam empat dimensi; person, proses, produk dan press. Rhodes (1961) menyebutnya “the four p’s of creativity”, berdasarkan analisis faktor Guilford menemukan lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu: kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), penguraian (elaboration), dan perumusan kembali (redefinition). Selain itu definisi kreativitas juga dibedakan ke dalam definisi konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli. Menurut Amabile (1983: 33) mengemukakan bahwa suatu produk atau respons seseorang dikatakan kreatif apabila menurut penilaian orang yang ahli atau pengamat yang mempunyai kewenangan dalam bidang itu bahwa itu kreatif. Dengan demikian, kretaivitas merupakan kualitas suatu produk atau respons yang dinilai kreatif oleh pengamat yang ahli.

Definisi konsensual didasari asumsi-asumsi sebagai berikut:
a) produk kreatif atau respons-respons yang dapat diamati merupakan manifestasi dari puncak kreativitas,
b) kreativitas adalah sesuatu yang dapat dikenali oleh pengamat luar dan mereka dapat sepakat bahwa sesuatu itu adalah produk kreatif,
c) kreativitas berbeda derajatnya, dan para pengamat dapat sampai pada kesepakatan bahwa suatu produk lebih kreatif dari pada yang lainnya.

Definisi ini sering digunakan dalam bidang keilmuan dan kesenian, baik yang menyangkut produk, orang, proses maupun lingkungan tempat orang-orang kreatif mengembangkan kreativitasnya. Definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Walaupun sama-sama menekankan pada produk, tetapi definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, tetapi pada kriteria tertentu.

Menurut Amabile dalam Dedi Supriadi (1994: 9) sesuatu produk dinilai kreatif apabila:
a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu,
b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi definisi ini lebih didasarkan atas pertimbangan penilai yang biasanya lebih dari satu orang, dalam definisi ini pertimbangan subyektif sangat besar.
Definisi kreativitas yang mewakili definisi konsensual dan definisi konseptual dikemukakan oleh Stein (1967) yaitu “ The creative work is a novel work that is accepted as tenable or useful or satisfying by a group in some point in time”. Dimensi kreativitas menurut definisi ini tercermin pada kriteria kreativitas, yaitu novel, tenable, seful, dan satisfying. Di pihak lain, dimensi konsensual dinyatakan melalui kata-kata that is accepted by a group in some point in time.
Pengertian-pengertian setiap istilah diuraikan sebagai berikut: Kata novel (baru) berarti bahwa suatu produk yang dinilai kreatif bersifat orisional. Meskipun tidak baru, produk tersebut mencerminkan hasil kombinasi baru atau reintegrasi dari hal-hal yang sudah ada, sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Kalimat that the creative work in tenable or useful or satisfying mengandung arti bahwa suatu produk kreatif harus berlaku, berguna, dan memuaskan sejauh dinilai oleh orang lain. Ketiga istilah tersebut menekankan bahwa hasil dari proses kreatif haruslah dikomunikasikan kepada orang lain, sehingga produk tersebut mengalami validasi konsensual. Oleh sebab itu, pengakuan orang lain, khususnya para ahli, sangatlah penting.

B.     Definisi Operasional Kreativitas
Kretivitas merupakan : “Kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkayam memperinci suatu gagasan)” .(Munandar SCU, 1077)

C.     Definisi kreativitas menurut Clark
Clark berdasarkan hasil berbagai penelitian tentang spesialisasi belahan otak, mengemukakan :
“Kretivitas merupakan ekspresi tertinggi keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua fungsi dasar manusia yaitu: berfikir, merasa, menginderakan dan intuisi (basic function of thingking, feelings, sensing and intuiting)” (Jung 1961, Clark 1986).

D.    Teori – Teori Kreativitas

1.      Teori Psikoanalisa
Pribadi kretif dipandang sebagai seorang yang pernah mengalami traumatis, yang dihadapi dengan memunculkan gagasan-gagasan yang disadari dan tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.
Teori ini terdiri dari:
A.    Teori Freud
Freud menjelaskan proses kretif dari mekanisme pertahanan (defence mechanism). Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama kreativitas karena kebutuhan seksual tidak dapat dipenuhi, maka terjadi sublimasi dan merupakan awal imajinasi.
Macam mekanisme pertahanan:
- Represi          - regresi
- Konpensasi   - Proyeksi
- Sublimasi      - Pembentukan reaksi
- Rasionalisasi - Pemindahan
- Identifikasi   - Kompartementalisasi
- Introjeksi

B.        Teori Ernest Kris
Erns Kris (1900-1957) menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi seiring memunculkan tindakan kreatif.
Orang yang kreatif menurut teori ini adalah mereka yang paling mampu “memanggil” bahan dari alam pikiran tidak sadar.
Seorang yang kreatif tidak mengalami hambatan untuk bias “seperti anak” dalam pemikirannya. Mereka dapat  mempertahankan  “sikap bermain” mengenai masala-masalah serius dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka m ampu malihat masalah-masalah dengan cara yang segar dan inovatif, mereka melakukan regresi demi bertahannya ego (Regression in The Survive of The Ego)

C.     Teori Carl Jung
Carl Jung (1875-1967) percaya bahwa alam ketidaksadaran (ketidaksadaran kolektif) memainkan peranan yang amat penting dalam pemunculan kreativitas tingkat tinggi. Dari ketidaksadaran kolektif ini timbil penemuan, teori, seni dan karya-karya baru lainnya.
2.      Teori Humanistik
Teori Humanistik melikat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi.
Teori Humanistik meliputi:
A.    Teori Maslow
Abraham Maslow (1908-1970) berpendapat manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan.
Kebutuhan tersebut adalah:
·         Kebutuhan fisik/biologis
·         Kebutuhan akan rasa aman
·         Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta
·         Kebutuhan akan penghagaan dan harga diri
·         Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri
·         Kebutuhan estetik
Kebutuhan-kebutuhan tersebut mempunyai urutan hierarki. Keempat Kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency”. Kedua Kebutuhan berikutnya (aktualisasi diri dan estetik atau transendentasi) disebut kebutuhan “being”. Proses perwujudan diri erat kaitannya dengan kreativitas. Bila  bebas dari neurosis, orang yang mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki. Mereka mencapai “peak experience” saat mendapat kilasan ilham (flash of insight)

B.     Teori Rogers
Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi internal dari pribadi yang kreatif, yaitu:
Keterbukaan terhadap pengalaman
Kemampuan untuk menilai situasi patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation)
Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.
Apabila seseorang memiliki ketiga cirri ini maka kesehatan psikologis sangat baik. Orang tersebut diatas akan berfungsi sepenuhnya menghasilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif. Ketiga cirri atau kondisi tersebut uga merupakan dorongan dari dalam (internal press) untuk kreasi.

3.      Teori Cziksentmihalyi

®    Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition). Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
®    Minat pada usia dini pada ranah tertentu
Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas.
®    Akses terhadap suatu bidang
Adanya sarana dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati   sangat membantu pengembangan bakat.
®    Access to a field
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam bidang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan + penghargaan dari orang-orang penting.
®    Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapai tujuannya.





REFERENSI :

Basuki, Heru. (2005). Kreatifitas, keberbakatan, intelektual dan factor-faktor pendukung dalam pengembangannya. Hal 20-21. Jakarta: Gunadarma.

Dedi Supriadi, (1994), Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek, Alfabeta, Bandung.